Interview Titip Jepang Bareng re:ON Comics

Titipers pasti tau re:ON Comics kan? Nah, beberapa waktu lalu Titip Jepang berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan teman-teman dari re:ON. Berikut hasil percakapan kami kala itu:

Titip Jepang: “Oke mas, jadi pertama tolong diceritakan dulu awal mulanya re:ON itu bagaimana sih?”

re:ON Comics: “ Oke, dari pertama ya. Sebelumnya saya Esa Wijanarko, Content manager dari re:ON comics. Pertama kenapa re:ON itu bisa ada dan hadir di dunia komik Indonesia, re:ON itu hadir sebagai penerbit komik Indonesia sejak tahun 2013 dengan semangat untuk menghidupkan dan membangkitkan kembali kekuatan dan posisi komik Indonesia agar komikus Indonesia seperti merasa menjadi contributor sendiri di rumah sendiri. Jadi memang prinsip dari founder komik re:ON, ada Pak Krisli, ada alm. Pak Andi dan juga Pak Wildan Gara memang prinsipnya untuk bisa mendukung dan membuat komikus Indonesia ini jadi tuan rumah di Indonesia sendiri.”

Titip Jepang: “Terus, dulu perkembangannya re:ON kan besat banget itu, bisa tolong diceritakan kenapa dulu bisa sepesat itu? Bahkan sampai dimana-mana.”

re:ON Comics : “Iya, itu merupakan sebuah effort dari re:ON agar bisa membawa komik Indonesia khususnya komik re:ON agar bisa semakin dikenal di pembaca komik Indonesia, target dunia kita juga ngga kalah dari luar negeri seperti Jepang dan lain-lain. Dan memang dengan memunculkan re:ON sebagai komik lokal maka itu bisa menarik target market untuk bisa mengenalkan re:ON segaligus mengenal komikus-komikus Indonesia. Dulu ketika mengenalkan re:ON sering juga kita tuh mendapat pernyataan seperti ‘Ooo ini komiknya buatan komikus lokal’ gitu. Sejak tahun 2013 berdiri, kita sudah menerbitkan 46 volume majalah komik lokal, dan 33 buku komik, sudah ada 70 judul komik yang kami terbitkan kerjasama dengan ratusan penulis dan komikus lokal”

Titip Jepang: ”Oo begitu, ngomongin soal majalah nih, ini tolong dikoreksi kalau salah ya. Itu kan konsepnya mengadopsi kaya weekly shonen jump itu kan ya? Cuman kalau weekly shonen jump dia di set murah biar orang tertarik beli satuannya ya. Apakah semangatnya tu awalnya begitu? Soalnya harganya itu kan cukup pricey ya yang re:ON majalah itu? Kemudian kan sempat tersendat juga ya jadi mungkin bisa diceritain kenapa kok ngga memilih langsung satuan aja?”

re:ON Comics: ”Pertama kami memang memilih mengadopsi sistem majalah komik kompilasi itu agar judul judul yang bisa dibaca pembaca itu lebih banyak. Jadi ada varian judul yang bisa dipilih pembaca, misal horror, romace, dan action gitu. Habis itu, perbedaannya tren majalah re:ON dengan penerbit lain itu, kita ngga cuman baca aja tapi emang untuk koleksi juga, makanya kita buat dengan kertas yang lebih bagus, dengan cover yang lebih bagus lagi dan worth untuk koleksi juga. Dari situ kita jadi tau lebih detil profil dan detil pembaca re:ON itu seperti apa, jadi kita bisa membuat angket per sepuluh volume, dari sepuluh terakhir judul apa yang paling disukai? Kita jadi tau pembaca sukanya komik yang seperti apa. Dari hasil angket kita bisa memutuskan akan membuat komik apa.”

Titip Jepang: “Ooo berarti konsepnya itu memang dibuat collectible ya, memang tidak semua yang akan terbit di majalah itu nantinya akan mendapat satuan?”

re:ON Comics: ”Iya begitu.”

Titip Jepang: ”Oke, soalnya ya memang cukup pricey sih ya. Saya juga sempat beli awal-awal tapi jangan-jangan nanti terbit satuan semua. Kan ada komik yang seperti itu.”

re:ON Comics: “Jadi misal pembaca cuma suka salah satu judul aja ya, bisa mendapatkan cuplikan ceritanya lewat majalah. Jadi kaya sistem subscribtion atau langganan terhadap cerita cerita komik. Daripada nunggu terbit komik satuannya kan bisa beli majalah dulu”

Titip Jepang: “Oke oke, dulu kan awal-awal sempet beredar obrolan di kalangan kolektor, kalau re:ON dulu konsepnya ada Shonen fact juga ya Kosmik juga ya, itu kan tiga majalah komik yang berjuang lah ya. Re:ON itu cukup sinonim dengan komik cewe secara umum. Nah, itu memang by design atau karena ngga sengaja seperti itu?”

re:ON Comics: “Kalau mengenai hal itu mudah dipahami karena re:ON memang by design menargetkan pembaca usia remaja sampai dewasa muda. Dari anak sekolah SMP sampai ke mahasiswi kuliahan lah. Karena memang dari majalah kami bisa menengetahui genre yang mereka suka dan demografi pembacanya. Ternyata memang berdasarkan data yang dikumpulkan itu pembaca re:ON itu banyakan perempuan remaja SMP sampai anak kuliahan gitu. Perbedaannya dengan yang cowok, mereka itu baca tapi ya minjem-minjem gitu.”

Titip Jepang: “Ooo iya bener, bener itu. Itu juga terbukti di penerbitan Elex Media. Memang cewe tu jauh lebih udah loyal, royal pula haha.”

re:ON Comics:  “Mereka punya potensi jadi loyal buyer lebih besar daripada cowok. Karna cowok cowok tu mungkin budget entertainment mereka lebih ke game dan lainnya. Tapi kalau cewe, semisal mereka udah merasa terhibur dan udah ada rasa loyal terhadap produk pasti mereka mau beli. Dari situ memang nargetnya dari segi designnya, dari kontennya yang kaya banyak cowo cowo ganteng lah gitu kan, romance cewek, nah itu memang kami menyesuaikan dengan demografi pembaca komik re:ON”.

Titip Jepang: ”Nah dulu memang batch pertama komik satuan itu kan termasuk Me vs Big Slacker Baby itu kan ya.”

re:ON Comics: “Ya, itu kan populer banget tuh. Dan salah satu best sellernya komik re:ON yang pastinya banyak beli cewek cewek. Kalau kita datengin event-event kaya komik furo itu masih digemari itu.”

Titip Jepang: “Iya, untungnya itu juga tamat juga kan ya?”

re:ON Comics: “Iya, tamat sih.”

Titip Jepang: ”Saya juga beli kok itu, jadi ngga cuma cewek aja haha.”

re:ON Comics: “Iya itu memang bisa dinikmati ngga cuma cewe doang, karna romance komedi.”

Titip Jepang: ”Nah iya, lebih ke shoujo gitu ya. Nah ini berarti kalau nyambung ke genre yang paling dinikmati itu romance ya? Yang paling atas buat re:ON?”

re:ON Comics: ”Iya, selalu kalau genre itu romance, horror, dan action.”

Titip Jepang: “Action nomor 3?”

re:ON Comics: “Iya, kalau urutan sebenarnya nomor satu horror, nomor dua romance, yang ketiga action.”

Titip Jepang: “Oo karena itu Shivers juga sampai sekarang masih produksi ya?”

re:ON Comics: “Iya, Shivers sampai sekarang. Nah jadi itu kala soal genre, horror, romance, sama action”

Titip Jepang: “Kalau, maaf ini lompat sedikit. Kan ada yang tidak diterbitkan dalam bentuk majalah dulu ya? Saya notice juga ada yang buat dewasa juga itu. Itu pendekatannya seperti apa?”

re:ON Comics : Itu karena memang lini penerbitannya berbeda dengan lini majalah komik-komik re:ON, itu lebih ke re:ON Infinite jadi misalnya notice di Shivers dan Jitu sebelah kiri biasanya itu ada re:ON Infinite, itu menandakan lini tersebut untuk pembaca dewasa usia 21 ke atas, jadi memang tidak bisa masuk ke majalah. Karena re:ON majalah kan memang menargetkan remaja gitu. Jadi kalau kami ingin menerbitkan konten komik yang lain untuk pembaca dewasa ya kita bikin buku satuan langsung, kita juga bisa langsung menyasar pembacanya dan menyaring biar ngga nyampur gitu. Itu salah satu bentuk awareness kita dan responsibility kita.”

Titip Jepang: Berarti memang statement bahwa komik majalah re:ON remaja identik dengan cewek itu by design ya.”

re:ON Comics: “Itu memang by design kami menyesuaikan dengan demografi pembaca komik re:ON pada umumnya.”

Titip Jepang: ”Oke, kemudian ini mungkin pertanyaan yang agak sensitif ini. Dulu itu kan re:ON hadir di majalah aja ya, dulu saya beli re:ON itu di Indomaret nah cuman mulai volume kebelakang ini kan sudah sepertinya fokus online. Boleh diceritain ngga sih itu? Karena kan kalau fokus online kan pembaca pembaca yang di luar Jawa agak kesulitan ya untuk belinya. Dan apakah itu mempengaruhi penjualan atau bagaimana?”

re:ON Comics: Jadi setelah mencoba menembus minimarket dan toko toko, kami mengumpulkan data datanya terkait dengan penjualan di minimarket, ternyata lebih efisien untuk fokus di online terutama sejak pandemic. Jadi distribusi di minimarket itu agak tricky dan tantangannya cukup sulit terutama distribusi stoknya. Dan ada beberapa tantangan lainnya yang membuat kami memutuskan untuk memilih jalur efisien. Jadi kalau di Gramedia sekarang khusus untuk komik-komik satuan aja, majalah udah ngga masuk ke gramedia lagi. Dan juga lewat online store bisa langsung direct selling ke pembaca re:ON sendiri, jadi yang dari luar daerah bisa langsung pesen dan ada program gratis ongkir dan lain sebagainya ke kita gitu.”

Titip Jepang: “Oo berarti masih ada komik komik kaya batc yang kemarin itu terbit baru tuh nanti juga akan terbit di Gramedia atau gimana?”

re:ON Comics: ”Iya, ada. Tapi sekarang kita lagi fokus ke marketplace dulu, online marketplace.”

Titip Jepang: “Oke berarti triggernya memang karena pandemic itu ya?”

re:ON Comics: “Iya, salah satu triggernya memang karena pandemi ini. Jadi mungkin dari tahun 2019 memutuskan untuk majalah tidak lagi di gramedia tapi online dulu. Kalau komik komik yang satuan masih masuk ke Gramedia.”

Titip Jepang: “Nah ini lanjut, saya lewati satu poin dulu mas. Nah itu kan terbitnya cukup lama, terutama Nusa Five, itu kan sampai harganya udah beda. Itu kalau ngga salah banyak yang marah juga. Nah kalau boleh tau kenapa sih interval terbitnya itu cukup lama? Apa ngga takut kalau pembaca itu udah lupa, atau bahkan komiknya udah dijual atau dikasih ke orang lain gitu?”

re:ON Comics: Kalau memang konteknya penerbit cukup lama ya kaya mungkin komik satu volume itu tergantung judul komiknya sih ya. Karena memang komik-komik yang digarap untuk cetak itu masih dikerjakan sendiri, jadi ngga ada timnya. Dan mugkin kalau ada asistennya paling satu itu dan jumlah halaman yang harus dibuat untuk satu buku cetak itu memang jauh lebih banyak ketimbang komik digital. Jadi perbedaan komik cetak dan komik webtoon itu adalah kalau komik cetak itu tentunya kejar kualitas yang lebih baik, bikinnya lebih intens, kalau webtoon ngerjain sendirian bisa yang penting update. Kecuali kalau komiknya memang dibikin dari awal sambung misal volume 1-10 gitu, kaya dari komik jepang gitu jadi perbulan ada yang baru. Tapi kan hanya masalah penerjemahannya aja. Misal dari orang Jepangnya seminggu paling banyak 20 halaman, kalau misalnya satu buku harus 160 halaman ya mungkin bisa sekitar 5 bulan lebih untuk jadi material siap cetak. Kalau ngga salah sih di Jepang komik cetak itu satu chapternya bisa lebih sedikit lagi halamannya bisa 18 atau 19 seminggu. Dan itu seminggu juga timnya udah banyak, fokusnya cuma ngerjain itu. Kalau disini kan masih ada pekerjaan lainnya, misal freelance atau bahkan kantoran. Tinggal masalah bagi waktu dan deadline komiknya sih.”

Titip Jepang: “Berarti lebih ke masalah teknis ya.”

re:ON Comics: “Iya, masalah teknis produksi.”

Titip Jepang: “Soalnya yang cukup rutin itu ya Jitu sih, itu satu tahun pasti ada satu.”

re:ON Comics: “Iya, dan itupun komikusnya masih nyambi kaya gitu, masih sendirian. Makanya paling dia asistensi di cerita.”

Titip Jepang: “Tapi Jitu itu cukup memuaskan kok. Jadi ketika terbit halamannya tebel dan enak dibaca juga.”

re:ON Comics: “Itu memang standar kualitas dan produk yang kami inginkan, agar pembaca itu merasa woth it untuk membaca gitu sih.”

Titip Jepang: “Jadi kan pertanyaan itu muncul karena kemarin batchnya ngga lanjut-lanjut. Sebenarnya secara umum, kolektor juga udah setengah pasrah haha, ini lanjut atau engga. Cuman yang bikin bersemangat adalah Nusa Five lanjut. Jadi mungkin masih akan lanjut itu sih, nah mungkin itu sih keresahan jadi pertanyaan ini muncul.”

re:ON Comics : “Iya, jadi memang setiap komik itu case nya berbeda-beda gitu, kalau Nusa Five itu kan memang di Indonesia re:ON adalah pemegang penerbitannya. Dan itu produksinya kami menyerahkan ke timnya Sweta.”

Titip Jepang: “Jadi terserah Mas Sweta mau gimana?”

re:ON Comics: “Bukan terserah sih tapi memang kita tektokkan dengan Sweta untuk teknisnya. Misal kita ada tanggal tertentu untuk launching atau ada peluncuran apa gitu itu bisa dibicarakan untuk projek ini.”

Titip Jepang: “Nah yang untuk re:ON itu kan di Google Play ada, itu ada ngga yang beli di Google Play gitu? Karena kan masa depan itu kan digital, makannya kan banyak projek di webtoon juga kan? Kedepannya untuk digitalisasi ini bagaimana?”

re:ON Comics: “Kalau misalnya untuk majalah atau komik komik re:ON pasti kita masih akan tetap berada di jalur cetak ya untuk sekarang. Dan digital itu adalah bentuk alternatifnya aja, tapi bukan berarti kita ngga fokus kesana juga, justru sekarang usahanya untuk memecah diversifikasi produknya jadi kita juga bakal ada versi digitalnya, ngga cuma e-book tapi juga ada webtoon. Untuk webtoonnya saat ini komik-komik re:ON sudah ada sekitar 27 judul yang dilisensikan versi webtoonnya di platform platform luar negeri semisal Singapore, Korea selatan gitu gitu. Kalau untuk e-book bisa didapatkan di Google Play. Jadi mungkin yang udah kehabisan volume majalah yang awal awal bisa dicari di Google Play. Tapi untuk yang cetak juga masih ada yang nyari kan collectible ya.”

Titip Jepang: “Berarti bisa dibilang digitalnya itu juga tetep jalan ya?”

re:ON Comics: “Iya.”

Titip Jepang: “Saya notice di google play juga soalnya, lho kok ada. Tapi ini entah sengaja atau engga, ketika dibuka emang warnanya hilang ya?”

re:ON Comics: “Oo itu kan versi cetak ya jadi emang bukan diwarnai itu. Kalau yang diwarnai ada di versi webtoon. Kalau itu cuma versi digital dari bentuk cetaknya.”

Titip Jepang: “Nah, ngomongin webtoon nih. Saya agak penasaran, tadi ada 27 judul webtoon dari re:ON ya. Ini kok ngga dimarketkan di Indonesia, kok malah ke luar negeri?”

re:ON Comics: “Karena platform luar negeri yang baru muncul mereka juga membutuhkan komik-komik baru gitu kan dari berbagai macam negara, salah satunya Indonesia. Nah kalau di Indonesia platform yang ada masih terbatas, dan untuk bisa kerjasama atau masuk ke platform tersebut masih cukup sulit. Ada masalah kecocokan sama konten dengan target pembaca di platform tersebut, ada masalah lain terkait bisnisnya, dan itu yang menjadi fokusnya re:ON itu di luar negeri. Di dalam negeri saat ini belum banyak alternative platform yang bisa dijadikan partner penerbitan gitu. Dan di dalam negeri kan re:ON juga masih ada komik versi cetak ya, jadi biar ngga saling tumpang tindih antara yang mau baca komik cetak dan komik digital.”

Titip Jepang: “Oo jadi emang secara spesifik dimarketkan di luar aja ya?”

re:ON Comics: “Bukan secara spesifik sih, tapi memang yang sudah ada ketertarikan dari platform platform luar negeri itu ya dari sana untuk re:ON. Kalau dari sini kita masih menerbitkan sendiri.”

Titip Jepang: ”Dari judul yang itu, yang di 20 an judul itu apakah ada kemungkinan nanti terbit fisik di Indonesia?”

re:ON Comics: “Kalau fisik kan sudah.”

Titip Jepang: ”Berarti bukan 20 judul ini bukan judul baru ya?”

re:ON Comics: ”Bukan, itu kami melakukan reformatting judul judul re:ON yang udah terbit dan dijadikan webtoon, diwarnain terus ditranslate dan dikirimkan di luar negeri, seperti itu. Jadi kenapa di dalam negeri belum ada ya karena orang masih jual cetaknya.”

Titip Jepang: “Oo oke oke kupikir karena tadi judul baru terus dikeluarkan. Oke, ini boleh dispill atau engga ya itu kan ada raksasa dapet nomination award itu?”Itu kapan itu?”

re:ON Comics: “Itu,saya lupa kayanya tahun 2019.”

Titip Jepang: “O udah lama berarti?”

re:ON Comics: “Iya, udah lama kok. Udah lama produksinya dan memang agak lama untuk produksi konten baru juga karena kan gambarnya agak detail.”

Titip Jepang: “Oke ini pertanyaan nomor 10 sih sebenernya udah terjawab bahwa tidak semua komik yang ada di majalah itu akan terbit. Sebenernya saya paling menanti Onthel sih haha.”

re:ON Comics: “Tapi onthel itu mungkin pengen coba di webtoon in juga sih.

Titip Jepang: “Berarti selain yang udah terbit yang batch kemarin itu masih ada kemungkinan yang dari majalah itu dapet cetak ya walaupun ngga semuanya?”

re:ON Comics: “Iya, bahkan sekarang tu ada yang ngga lewat majalah dulu kaya yang terbaru ada Viper Fist, ha itu kan ngga majalah dulu kan langsung udah terbitin gitu, karena one shoot juga dan bagus.”

Titip Jepang: ”Nah ini, top 3 komik re:ON?”

re:ON Comics: “Kalau top 3 komikus re:ON tentu saja nomor satu Haryadhi ya, karena bikin komik Jitu itu diminati dan ternyata market untuk komik dewasa itu pembaca di Indonesia sebenarnya juga cukup signifikan. Meskipun kami tidak memasukkan Jitu ke toko buku karena sebagai bentuk tanggung jawab kami sebagai penerbit yang bisa menyaring pembacanya sesuai target umurnya. Makanya kami menjual lewat online marketplace aja dan itu laris.”

Titip Jepang: “Kalau ngga salah sempet cetak ulang juga kan?”

re:ON Comics: “Betul sempet cetak ulang. Dan hopefully nanti bisa menjadi film sih rencananya. Dan itu tadi yang pertama, yang kedua ada Dini Marlina yang membuat komik re:ON and Friens. Itu dengan gaya ilustrasinya yang khas, lucu dan menarik. Dan dia komikus yang paling cepet ngegambarnya jadi salah satu top 3 komikus re:ON. Meskipun sekarang Dini udah freelance, tapi sekarang kita masih tetep hubungan kerja gitu. Yang ketiga ada Fachreza Octavio yang membuat komik webtoon Ohayo Tokyo! Yang dulu tayang di platform komiko yang sekarang kan sudah tidak ada. Sekarang kan ada versi cetaknya diterbitkan oleh m&c. Itu dari re:ON tapi ada kerjasama dengan m&c untuk nerbitin versi komik cetaknya. Tapi tentu saja full color.”

Titip Jepang: “Kalau full color atau engga itu sebenernya bisa dilihat dari harganya haha. Kalau cukup pricey biasanya full color. Itu komikusnya, lha kalau komik boleh tanya ngga top best sellernya re:ON itu apa?”

re:ON Comics: “Kalau komiknya, yang satuan tentu saja Shivers, bahkan sudah diterbitkan juga di Malaysia oleh penerbit Kadokawa keempat itu udah sampai volume tujuh kayanya tuh. Dan itu tetep pakai bahasa Malaysia tuh, judulnya juga pakai bahasa Malaysia kaya “Gentar” “Gigil” gitu gitu sih, tapi isinya tetep masih sama.” Itu yang pertama, yang kedua ada Me Vs Big Slacker Baby, itu yang top untuk romencenya re:ON. Yang ketiga ada re:ON and Friend, yang versi digitalnya tayang gratis di Instagram dari tahun 2020, terus untuk cetaknya baru terbit satu volume kerjasama sama m&c juga, full color juga.”

Titip Jepang: “Malah yang aksi-aksi tidak masuk ya?”

re:ON Comics: “Yang action-action sekarang under itu sih, misal ada vol 4,5,6 nanti ada yang Ramayana, megaloman dan lain lain. Kalau raksasa kan baru keluar sih ininya.”

Titip Jepang: “Nah untuk dunia komik lokal terutama untuk pembacanya ya, harapan re:ON Comics itu apa sih?”

re:ON Comics: “Harapan terbesar re:ON untuk para pembaca komik agar bisa selain mengenal juga lebih mendukung dan menghargai karya komik lokal dan tentunya agar industri komik Indonesia bisa lebih berkembang, dan pada akhirnya juga bisa mendapatkan dukungan dan perhatian dari pemerintah.”

Titip Jepang: “Oke itu untuk pembaca ya, kalau untuk kreator lokal nih, dulu bagaimana sih cara submisi ke re:ON? Apakah mungkin komikus komikus lokal itu untuk menerbitkan komiknya di re:ON?

re:ON Comics: “Oo ya tentu saja, jadi masih sama dengan seperti dulu. Kalau misalnya komikus-komikus lokal ingin menerbitkan komiknya bisa mengirimkan komiknya satu chapter dalam kualitas final yang sudah jadi maksimal halamannya 16 atau 24, kemudian dikirimkan ke email nanti saya kirimkan alamat emailnya. Kalau genre yang saat lebih dicari oleh re:ON adalah genre horror. Kalau genre lain masih terbuka juga, tapi yang saat ini lebih dicari sih horror.

Titip Jepang: “Kalau seumpama komikus udah lama itu apakah punya peluang untuk kerjasama juga dengan re:ON yang belum masuk ke re:ON itu?”

re:ON Comics: ”Sama saja, jalurnya tetep sama. Sama sama submisi juga, mengirimkan story kitsnya, apa yang bikin komik cerita ini menarik, agar bisa dinilai secara menyeluruh, ga cuma dinilai gambarnya keren gitu.”

Titip Jepang: “Jadi re:ON memang punya standar tertentu untuk menerbitkan komik.”

re:ON Comics: “Betul, saya dulu inget banget ketika masih zaman penerbitan komik itu terbatas ya kita mesti belajar melihat karya komik yang kita punya dan kita bawa, ga Cuma melihat dari segi idealismenya tapi juga dari segi bisnisnya. Apakah produk yamg mau kita tawarkan pada penerbit ini memiliki nilai bisnis dan nilai kualitas produk yang bisa diterima oleh penerbit tersebut. Ngga hanya setengah setengah atau asal, komikusnya pun harus juga diperhitungkan . Komikus itu ngga cuman bisa asal ngegambar aja tapi juga memikirkan bagaimana komik komik ini kalau diterbitkan. Kalau mengandalkan bagaimana idealisme saja, mending mencoba jalur indie. Karena dengan jalur indie bisa sekalian cek ombak, apakah komik kalian ini bener-bener banyak yang suka.”

Titip Jepang: ”Buat melihat kenyataan dulu ya.”

re:ON Comics: ”Betul, dipikirkan juga komik yang dibikin itu secara bisnisnya, secara komersilnya.”

Begitu kira-kira percakapan kami dengan sahabat re:ON Comics. Titipers ada yang mau mencoba mengirimkan karya-karyanya??
Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^

Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang