Bukan Cuma Lokasi Syuting, Ini Elemen Jepang dari Drakor Can This Love Be Translated?


Drama Korea Can This Love Be Translated? menarik perhatian penonton bukan hanya karena kisah romansa lintas budaya yang diangkat, tetapi juga karena kehadiran elemen Jepang yang terasa menyatu dengan cerita. Jepang dalam drama ini tidak sekadar menjadi latar lokasi, melainkan hadir melalui nilai budaya, cara berkomunikasi, hingga pendekatan visual yang membentuk suasana dan konflik emosional para tokohnya.
Berbeda dari kebanyakan drama Korea romance yang mengandalkan dialog emosional dan konflik besar, Can This Love Be Translated? menghadirkan cerita yang memberi ruang pada detail-detail kecil yang terasa autentik. Di sinilah elemen Jepang berperan, terlihat dari latar cerita di Jepang, cara tokoh menyampaikan perasaan secara tidak langsung, serta nilai budaya yang menekankan ketenangan dan keharmonisan.
Jepang Bukan Sekadar Latar Cerita
Elemen Jepang paling mudah dikenali tentu hadir melalui latar cerita. Beberapa bagian penting dalam drama ini mengambil setting di Jepang dengan suasana yang cenderung tenang dan sederhana. Lingkungan yang ditampilkan tidak digambarkan sebagai kota yang ramai dan penuh distraksi, melainkan sebagai ruang yang memberi kesempatan bagi karakter untuk berefleksi.
Penggunaan latar Jepang tersebut bukan sekadar pemanis visual. Suasana yang hening dan tertata rapi membantu membangun emosi cerita, terutama pada fase awal hubungan antar tokoh. Jepang digambarkan sebagai ruang pertemuan, tempat munculnya ketertarikan awal, sekaligus titik di mana perasaan mulai berkembang secara perlahan.
Perasaan yang Tak Selalu Diucapkan
Selain latar tempat, elemen Jepang juga terlihat pada cara para tokohnya berkomunikasi. Dialog dalam drama ini cenderung singkat, penuh jeda, dan minim pernyataan perasaan secara eksplisit. Emosi tidak selalu diungkapkan lewat kata-kata, melainkan melalui gestur kecil, ekspresi wajah, serta respons yang terlihat sederhana.
Gaya komunikasi semacam ini lekat dengan budaya Jepang yang mengutamakan kesantunan dan kehati-hatian dalam menyampaikan perasaan. Banyak hal justru disampaikan secara implisit. Penonton pun diajak untuk lebih peka membaca situasi dan memahami makna di balik keheningan atau kalimat yang terdengar biasa.
Konflik yang Datang dari Dalam Diri Tokoh


Elemen Jepang juga hadir melalui nilai budaya yang membentuk konflik cerita. Salah satu nilai yang cukup menonjol adalah upaya menjaga keharmonisan dan menekan kepentingan pribadi demi mempertimbangkan perasaan orang lain. Tokoh-tokohnya kerap berada dalam dilema antara mengikuti keinginan hati atau memenuhi tanggung jawab sosial.
Konflik yang muncul jarang digambarkan dalam bentuk pertentangan terbuka. Sebaliknya, drama ini lebih banyak mengeksplorasi konflik batin yang berlangsung secara sunyi. Pergulatan emosional tersebut terasa realistis dan dekat dengan keseharian, terutama bagi penonton yang akrab dengan budaya Asia Timur.
Bukan Sekadar Bahasa, tapi Cara Memahami Perasaan
Sesuai dengan judulnya, bahasa menjadi elemen penting dalam cerita. Namun, proses menerjemahkan dalam drama ini tidak semata soal bahasa secara harfiah. Yang lebih ditekankan adalah upaya memahami maksud, emosi, dan perasaan yang tersembunyi di balik kata-kata.
Dalam konteks budaya Jepang, satu kalimat sederhana bisa memiliki makna emosional yang lebih dalam tergantung situasi dan relasi antar tokoh. Perbedaan cara mengekspresikan perasaan inilah yang memperkaya dinamika hubungan para karakter dan menjadi sumber konflik yang halus namun bermakna.
Visual Sederhana yang Menguatkan Emosi Cerita
Dari sisi visual, pengaruh Jepang terlihat melalui pendekatan estetika yang minimalis dan bersih. Penggunaan warna yang lembut, pencahayaan yang tidak berlebihan, serta komposisi adegan yang sederhana membuat drama ini terasa tenang dan intim. Kamera sering dibiarkan diam lebih lama, memberi ruang bagi emosi karakter untuk berkembang tanpa gangguan.
Pendekatan visual ini sejalan dengan gaya penceritaan yang tidak tergesa-gesa. Alih-alih mengandalkan musik dramatis atau dialog panjang, emosi dibangun melalui suasana, ritme, dan detail kecil yang perlahan mengendap di benak penonton.
Elemen Jepang yang Menyatu dengan Cerita
Secara keseluruhan, elemen Jepang dalam Can This Love Be Translated? tidak hadir sebagai tempelan semata. Budaya, nilai, bahasa, dan estetika Jepang menyatu dengan alur cerita serta perkembangan karakter. Elemen-elemen tersebut justru menjadi fondasi yang menguatkan tema besar drama ini, yakni tentang cinta, perbedaan, dan upaya saling memahami.
Lewat elemen Jepang yang disisipkan secara halus, Can This Love Be Translated? tidak hanya bercerita tentang romansa lintas budaya, tetapi juga tentang cara memahami perasaan yang sering kali tak terucap. Alih-alih menonjolkan konflik besar, drama ini justru membiarkan detail kecil, gestur sederhana, dan keheningan menyampaikan maknanya sendiri.
Itu dia elemen Jepang yang disisipkan secara halus dalam drama Can This Love Be Translated?. Tidak hanya bercerita tentang romansa lintas budaya, tetapi juga tentang cara memahami perasaan yang sering kali tak terucap. Alih-alih menonjolkan konflik besar, drama ini justru membiarkan detail kecil, gestur sederhana, dan keheningan menyampaikan maknanya sendiri.
Jangan lupa ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Sumber: imdb
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang