Isu Penolakan Pembangunan Masjid di Jepang, Muncul Sebelum Kampanye Pemilu

Masjid di Jepang

Melansir dari website resmi The Mainichi (06/02/2026), polemik pembangunan masjid di Fujisawa, Prefektur Kanagawa, menjadi bagian dari kampanye pemilu dan memicu perdebatan publik soal diskriminasi dan keamanan.

Polemik ini berkembang setelah rencana pembangunan masjid diseret ke dalam wacana politik lokal, memunculkan perdebatan publik mengenai keamanan, kebebasan beragama, dan posisi kelompok minoritas di Jepang.

Seruan Penolakan Disampaikan Saat Kampanye

Pada 29 Januari, calon independen Susumu Kikutake menyampaikan seruan untuk menghentikan rencana pembangunan masjid dalam pidato kampanye di sekitar JR Fujisawa Station.

Dalam pidatonya, Kikutake mengaitkan keberadaan masjid dengan kekhawatiran terhadap keamanan lingkungan. Pernyataan tersebut kemudian mendapat dukungan dari sejumlah tokoh politik lokal, sehingga isu pembangunan rumah ibadah itu dengan cepat menjadi bagian dari dinamika kampanye pemilu.

Aksi Balasan Anti-Rasisme dari Warga

Di hari yang sama, warga dan aktivis menggelar aksi tandingan di sekitar Shonandai Station. Mereka menolak klaim bahwa pembangunan masjid akan memperburuk situasi keamanan dan menyebut narasi tersebut menyesatkan.

Para peserta aksi menilai pengaitan masjid dengan ancaman keamanan berpotensi memperkuat stigma terhadap komunitas Muslim. Mereka menegaskan bahwa tempat ibadah tidak seharusnya dijadikan alat kampanye politik yang dapat memicu prasangka dan diskriminasi.

Agama dan Politik dalam Ruang Publik

Kasus di Fujisawa memperlihatkan bagaimana isu agama dan identitas dapat dengan mudah masuk ke dalam arena kontestasi politik. Dalam konteks Jepang, yang memiliki populasi Muslim relatif kecil, pembangunan masjid kerap menjadi simbol perubahan sosial yang memunculkan kecemasan di sebagian kalangan.

Bagi kelompok warga yang menentang penolakan tersebut, penggunaan isu masjid dalam kampanye dinilai menyederhanakan persoalan yang kompleks. Mereka menilai diskursus semacam ini berisiko mengaburkan pembahasan rasional mengenai tata kota, kehidupan bersama, dan hak beragama.

Hingga kini, polemik mengenai pembangunan masjid di Fujisawa masih terus berlangsung. Isu ini tidak lagi semata membahas izin pembangunan, tetapi telah berkembang menjadi perdebatan yang menyentuh batas antara kebebasan beragama, strategi politik elektoral, dan tanggung jawab publik dalam menjaga kohesi sosial.

Peristiwa ini menambah sorotan terhadap meningkatnya sensitivitas isu keberagaman di Jepang, sekaligus menunjukkan bagaimana ruang publik dan kampanye politik menjadi medan penting dalam membentuk persepsi terhadap kelompok minoritas.

Aksi balasan anti-rasisme yang muncul menunjukkan adanya resistensi terhadap politisasi isu agama, sekaligus menegaskan bahwa sebagian masyarakat Jepang menolak pendekatan kampanye yang dinilai eksklusif dan diskriminatif.

Jangan lupa ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Sumber: mainichi
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang