Asal Usul Kata Otaku yang Jarang Diketahui: Dari “Rumahmu” Sampai Jadi Identitas Global


Mungkin, Titipers sudah bertahun-tahun menyebut diri sendiri sebagai otaku atau menyebut orang lain dengan panggilan tersebut dalam kolom komentar, ditulis di bio media sosial. Panggilan tersebut menjadi identitas diri dalam sebuah komunitas. Namun, kalau ditanya artinya, kebanyakan orang akan menjawab seperti, “penggemar anime yang fanatik” atau “orang yang suka manga dan game.”
Tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Kata “otaku” punya sejarah yang jauh lebih panjang dan berliku dari yang terlihat. Bukan hanya sekadar kata yang lahir dari dunia hiburan, bukan juga istilah yang diciptakan oleh industri anime untuk memasarkan produknya. Kata ini tumbuh secara organik di antara sekelompok orang yang bahkan tidak menyebut diri mereka otaku di awal, mereka hanya penggemar biasa yang punya cara tersendiri dalam menyapa satu sama lain.
Pernahkah bertanya, dari mana asal kata Otaku dan bagaimana bisa maknanya berubah seperti saat ini?
Berawal Sapaan Sopan untuk “Kamu”
Kata otaku berasal dari bahasa Jepang おたく, gabungan dari awalan kehormatan o- dan kata taku yang berarti rumah. Jadi kalau diterjemahkan secara harfiah, otaku artinya kurang lebih “rumahmu” atau “keluargamu.”
Dalam tata bahasa Jepang, kata ini berfungsi sebagai kata ganti orang kedua yang terasa formal dan berjarak. Kesannya lebih sopan dari sekadar menyebut nama, tapi tidak seakrab sapaan sehari-hari pada umumnya.
Di komunitas penggemar anime era 1970-an dan 1980-an, kata ini mulai sering dipakai ketika sesama fans ngobrol satu sama lain. Penggemar waktu itu cenderung canggung menggunakan sapaan kasual kepada orang yang belum terlalu dikenal, jadi mereka memilih kata yang lebih netral dan tidak terlalu personal.
Seniman Murakami Takashi mencatat bahwa kebiasaan ini pertama kali populer di lingkungan staf Studio Nue, salah satu studio anime penting di Jepang. Ini menyebar lebih luas dan semakin dikenal setelah salah satu karakter dalam serial anime Macross (1982) sering menggunakannya dalam dialog.
1983: Satu Tulisan yang Mengubah Segalanya
Makna kata otaku mulai bergeser setelah sebuah kolom berjudul “Otaku no Kenkyū” terbit di majalah Manga Burikko pada Juni 1983. Penulisnya, kritikus Nakamori Akio, memakai kata itu untuk menggambarkan para penggemar anime yang dinilai tidak bisa bergaul secara normal di masyarakat dan ia mengatakannya dengan nada yang tidak baik.
Tapi yang terjadi kemudian justru di luar dugaan. Para penggemar bukannya menghindari label itu, mereka malah mulai menggunakannya sendiri. Awalnya mungkin sebagai candaan, tapi lama-lama kata itu menjadi bagian dari cara mereka mengidentifikasi diri.


1989: Tahun yang Membuat Kata Ini Jadi Berbahaya
Kalau 1983 adalah tahun ketika otaku mendapat makna baru, maka 1989 adalah tahun yang nyaris merusaknya sepenuhnya.
Tsutomu Miyazaki, seorang pria berusia 26 tahun, ditangkap karena serangkaian pembunuhan terhadap anak perempuan di pinggiran Tokyo. Di apartemennya ditemukan ribuan kaset video, termasuk anime dan film bertema kekerasan. Media waktu itu langsung menyebutnya sebagai “pembunuh otaku” dan dari sana, citra otaku di mata publik Jepang runtuh.
Situasinya semakin buruk setelah serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo tahun 1995. Beberapa anggota sekte yang bertanggung jawab diketahui punya ketertarikan pada manga dan fiksi ilmiah bertema kiamat. Dua kejadian besar ini membuat banyak orang Jepang menyimpulkan hal yang sama: tertutup, obsesif, dan terlalu dalam tenggelam dalam dunia fiksi adalah kombinasi yang berbahaya.
Bertahun-tahun setelahnya, menjadi otaku di Jepang adalah sesuatu yang disembunyikan.
Perbedaan Pandangan Penggemar di Luar Jepang


Ketika anime dan manga mulai dikenal luas di Amerika Serikat dan Eropa pada 1990-an, kata otaku juga sering digunakan di sana.
Para penggemar anime di Amerika justru bangga menyebutnya. Salah satu konvensi anime terbesar di sana bahkan dinamai Otakon, singkatan dari “Otaku Convention.” Majalah khusus komunitas ini pun diberi nama Otaku USA. Kata yang di Jepang masih terasa sensitif, di Amerika sudah jadi nama yang dipakai tanpa ragu.
Perlahan, Citra Otaku di Jepang Mulai Berubah
Perubahan mulai terlihat sekitar pertengahan 2000-an. Okada Toshio, salah satu pendiri studio anime Gainax, muncul sebagai figur publik yang secara terbuka membahas dunia otaku. Bahkan mengajar mata kuliah khusus tentang topik ini di Universitas Tokyo selama lima tahun.
Kemudian pada 2004, buku Densha Otoko (Train Man) menjadi fenomena nasional. Diklaim berdasarkan kisah nyata seorang otaku pemalu yang berhasil mendapatkan cinta berkat dukungan komunitas online, buku ini diadaptasi menjadi film, serial TV, manga, hingga pertunjukan panggung. Untuk pertama kalinya, otaku digambarkan bukan sebagai ancaman sosial, tapi sebagai manusia biasa dengan harapan dan ketakutan yang tidak berbeda jauh dari orang kebanyakan.
Otaku Hari Ini
Oxford English Dictionary secara resmi memasukkan kata otaku ke dalam kamusnya pada Maret 2008 — penanda bahwa kata ini sudah menjadi bagian dari kosakata yang dipakai secara global.
Di Indonesia, komunitas otaku termasuk yang paling aktif di Asia Tenggara. Event anime berskala besar rutin digelar di berbagai kota, dan menjadi otaku hari ini bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan.
Tapi mungkin yang paling menarik dari seluruh perjalanan kata “Otaku” ini bukan soal bagaimana eksis dan mendunia — melainkan bagaimana ia bertahan. Kata otaku pernah dijadikan senjata untuk merendahkan, kejahatan, pernah membuat orang malu mengakui kesukaannya sendiri. Dan tetap saja, komunitas yang ada di baliknya tidak bubar. Mereka tidak mengganti nama, tidak bersembunyi, mereka menunggu, terus berkarya, hingga pada akhirnya dunia menyesuaikan diri.
Kalau kalian hari ini menyebut diri kalian sebagai “otaku” — dengan santai, dengan bangga, atau bahkan sekadar bercanda. Tanpa kalian sadari, kalian sedang melanjutkan perjalanan sebuah kata yang sudah melewati lebih dari empat dekade untuk sampai ke sini.
Jangan lupa ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Sumber: asianstudies themetroclassic
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang