KATEGORI

Belum ada Produk di keranjang kamu, yuk cari produk incaran kamu di sini!

‘Nyotaimori’ Tradisi Jepang 100 Tahun Lalu Yang Dipenuhi Hasrat Manusiawi

Perkenalkan ‘Nyotaimori’, sebuah tradisi Jepang yang menggabungkan hasrat makanan dan seksual dalam satu piring

Jepang memiliki banyak tradisi yang sangat unik dan sudah ada dari jaman sebelum perang dunia terjadi, entah itu sebuah festival atau matsuri, upacara minum teh yang dikenal dengan sadou, menggunakan kimono, bahkan yang berbau seksual seperti Geisha. Hampir semua ada di Jepang… tapi bagaimana dengan sebuah tradisi di Jepang yang menggabungkan rasa lapar kalian dan seksual sekaligus ya? Apakah ada? Jawabannya ada!

Tradisi di Jepang tersebut adalah Nyotaimori. Dalam artikel ini mimin akan memberikan sebuah pembahasan dari salah satu tradisi yang dikenal cukup kontroversi di dunia bahkan di negara Jepang itu sendiri. 

Tradisi Jepang Lawas Yang Tidak Lazim

Nyotaimori, atau bisa dibilang sebagai ‘Sushi Tubuh’ adalah sebuah praktik Jepang yang menyajikan sushi di atas tubuh wanita. Sesuai dengan deskripsi itu, bisa dikatakan tubuh wanita yang melakukan praktik ini dijadikan piring sushi dan tentunya bisa dimakan langsung di tubuh wanita itu… tapi yang membuatnya tidak lazim adalah wanita yang dijadikan ‘piring’ itu tidak berbusana! benar-benar tanpa adanya busana dan hanya menaruh makanan saja diatasnya.

Wanita harus bertelanjang bulat dan melayani para pria yang membayar mereka untuk melakukan Nyotaimori merupakan kejadian di masa lampau Jepang. Kasus ini sama dengan prostitusi pada era terdahulu.

Yap, hal tersebutlah yang membuat tradisi ini tidak lazim. Wanita yang melakukan ini hanya berbaring lalu sushi atau hiasan makanan biasanya ditaruh di area seksual (dada, kelamin) untuk meningkatkan hasrat seorang laki-laki. Lalu laki-laki yang membeli para wanita-wanita itu makan di atas ‘piring’ yang telah disediakan tersebut. Hal ini telah dilakukan di era Jepang dari zaman dahulu, dan saat ini telah berkembang menjadi sesuatu yang cukup berbeda namun memiliki esensi yang sama dengan era tersebut. 

Sejarah Nyotaimori

Tradisi ini sudah ada sejak 100 tahun lalu (sekitar 1800-an) dan hanya ada di kalangan atas saja entah itu Raja ataupun bangsawan. Beberapa menyebutkan bahwa Nyotaimori juga diberikan bagi prajurit-prajurit yang telah berpulang dari medan pertempuran. Prajurit melepaskan penat mereka dengan datang ke rumah Geisha (wanita penghibur malam). Lebih tepatnya adalah praktik yang diberikan merupakan hadiah atas kemenangan mereka di medan peperangan yang telah dilalui di zaman tersebut.

Sebuah campuran tradisi Geisha yang berkembang menjadi hasrat lelaki yang lain menimbulkan tradisi baru ini. Tradisi Jepang satu ini mulai terkenal juga secara mendunia.

Nyotaimori terus berkembang hingga era 1990-an dan tentunya perlawanan terhadap wanita juga ikut berkembang. Tradisi ini mengharuskan wanita merendahkan martabatnya, maksudnya mimin adalah, wanita yang melakukan praktik ini harus berada di posisi terendah sebagai bahan seksualitas lelaki dan melayani mereka. Wanita tersebut juga harus terlentang selama berjam-jam dan menahan dinginnya malam (karena biasa dilakukan Nyotaimori di malam hari pada era tersebut).

Mengingat ini adalah praktik yang tidak lazim dan karena peruntukkan hasrat seorang lelaki, hal ini dianggap sebagai prostitusi. Ketika Jepang mengeluarkan Undang-undang Anti Prostitusi pada zaman 1990-an, tradisi Nyotaimori dihentikan dan hanya ada segelintir tempat saja yang membuka praktik ini bahkan dilakukan dengan cara diam-diam. 

Pada akhirnya Nyotaimori lebih dikenal sebagai karya seni, atau hanya sebatas menarik pelanggan ke sebuah restoran untuk melihat pertunjukkan seni saja sekarang. Kalian bisa menemukan tradisi ini di beberapa restoran di Jepang bahkan beberapa restoran nuansa Jepang di negara lain. Tentunya hal ini mengacu kembali kedalam hal prostitusi yang dilarang di berbagai negara, jadi nggak ada hal aneh-aneh ketika kalian mencoba melihat Nyotaimori di restoran sekarang. 

Nyotaimori Sekarang

Hal yang paling berbeda dari Nyotaimori sekarang adalah menjadi tradisi yang HANYA boleh makan sushi menggunakan sumpit saja atau tidak kontak langsung, tanpa melakukan tindakan seksual dan juga tanpa bicara sama sekali dengan wanita yang sedang melakukannya. 

Ngomong-ngomong juga praktik Nyotaimori juga bisa dilakukan oleh model pria dan penyebutannya berbeda. Kalau wanita Nyotaimori, kalau laki-laki Nantaimori. Artinya sama namun berbeda yang menyajikannya. 

Berhubung zaman dahulu Nyotaimori dilakukan dengan tubuh telanjang, ini membawa Nyotaimori ke dalam kasus dunia kesehatan. Bayangkan saja tubuh seseorang yang berkeringat dan kita harus memakan-makanan yang disediakan di tubuh tersebut, pastinya nggak higienis dong… Oleh karena itu, sekarang Nyotaimori dilakukan dengan lebih higienis menggunakan lapisan. Lapisan tersebut diberikan kepada bagian tubuh yang diberi makanan dan dilapisi dengan plastik sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tubuh. Ditambah tidak lupa menghormati model yang mempertahankan tradisi ini dan membawanya ke era sekarang.

Adapun syarat-syarat khusus melakukan Nyotaimori, di antaranya:

  • Bagian-bagian penting pada model tubuh wanita harus ditutupi. Biasanya ditutupi dengan hiasan. Misalnya, dengan bunga maupun buah-buahan.
  • Sebelum sushi diletakkan ke tubuh model wanita, tubuh tersebut sudah disterilkan dan dibersihkan secara khusus dengan sabun bebas parfum.
  • Para tamu hanya boleh mengambil sushi dengan sumpit. Artinya, mereka tidak diperbolehkan untuk berkomentar atau melakukan gerakan yang tidak pantas.
  • Saat makan, tamu pengunjung dilarang berbicara dengan model. Namun, model diperbolehkan untuk berbicara kepada tamu.

Nyotaimori memiliki asal muasal yang cukup unik, tapi mimin masih merasa hal ini cukup kontroversial bahkan hingga sekarang. Tapi bagaimana menurut kalian tentang tradisi satu ini?

Sumber : sabukaru.online, Food Detik, KBR

Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^

Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang