KATEGORI

Belum ada Produk di keranjang kamu, yuk cari produk incaran kamu di sini!

Review Film Kokuho: Mengintip Dunia Kabuki

Review Film Kokuho

Kokuho (国宝, berarti “harta nasional”) adalah film drama Jepang tahun 2025 yang disutradarai oleh Lee Sang-il, sineas yang dikenal lewat pendekatan visualnya yang kuat dan sensitif terhadap dinamika karakter. Naskah film ini ditulis oleh Satoko Okudera, diadaptasi dari novel populer karya Shuichi Yoshida yang terbit pada 2018, dan membawa kisah tentang kehidupan serta dedikasi dalam dunia kabuki (seni teater tradisional Jepang yang memadukan tari, drama, dan musik).

Film berdurasi 175 menit ini dibintangi oleh Ryo Yoshizawa sebagai Kikuo Tachibana, dengan Ryusei Yokohama memerankan Shunsuke Ogaki. Kehadiran Ken Watanabe, Shinobu Terajima, Mitsuki Takahata, Min Tanaka, dan Morio Kazama. Deretan pemeran tersebut turut memperkuat lapisan dramatik film, menghadirkan kombinasi aktor lintas generasi yang memberi bobot emosional sekaligus kedalaman performatif.

Kokuho memulai debut internasionalnya di Festival Film Cannes 2025 (Directors’ Fortnight), mencatat perhatian besar di box office domestik Jepang, serta dipilih sebagai wakil Jepang untuk Academy Awards 2026 kategori Best International Feature Film, termasuk meraih nominasi di bidang tata rias dan rambut yang terlihat dari kualitas visual film ini.

Memahami Kabuki Lewat Bahasa Visual Film

Daya tarik utama film Kokuho terletak pada caranya memperkenalkan kabuki kepada Titipers yang mungkin belum familiar dengan seni ini. Plot film tidak mengandalkan penjelasan panjang, tetapi menampilkan langsung prosesnya. Seakan-akan penonton juga diajak mengikuti latihan, persiapan pertunjukan, hingga kehidupan para aktor di balik panggung.

Seiring film berjalan, alur cerita mulai memahami bahwa kabuki memiliki aturan, teknik, dan standar yang ketat. Peran onnagata (aktor laki-laki yang memerankan karakter perempuan) terlihat semakin jelas bahwa menjalani sebagai aktor di atas panggung bukanlah hal yang mudah. Melalui adegan latihan dan pementasan, Titipers juga bisa melihat bagaimana gerak, postur, dan ekspresi dibentuk dengan disiplin. Film ini membuat Titipers lebih peka terhadap detail visual yang sebelumnya mungkin terasa asing.

Kabuki adalah

Detail Visual dan Performa Aktor

Film ini menonjol lewat penggunaan detail shot yang tajam dan presisi, terutama dalam adegan latihan, proses tata rias, dan pementasan kabuki. Kamera memberi perhatian pada elemen-elemen kecil seperti ekspresi wajah, perubahan make-up, hingga kontrol gerak tubuh aktor. Pilihan visual ini membuat Titipers bisa melihat kabuki dari jarak yang lebih dekat dan terasa lebih intim.

Ketelitian visual tersebut selaras dengan karakter kabuki yang menuntut presisi. Langkah kaki, posisi tangan, hingga ritme tubuh diperlihatkan dengan sangat jelas, memperlihatkan bagaimana latihan yang konsisten dapat melampaui kemampuan awal seorang aktor. Film ini secara halus menegaskan bahwa disiplin mampu menyaingi, bahkan melampaui, seseorang yang mempunyai potensi. Adegan tata rias pun menjadi transisi menuju panggung, yang memperlihatkan proses persiapan dan pendalaman peran. Nuansa ini semakin terasa ketika film menampilkan dinamika Kikuo bersama Shunsuke sebagai duo Han-Han, di mana kehadiran panggung dan kualitas performa keduanya tertangkap dengan jelas.

Tubuh sebagai Arena Disiplin

Salah satu aspek paling memikat dari Kokuho adalah bagaimana film ini memperlihatkan tubuh. Di balik keindahan seni Kabuki terdapat seni yang menuntut kontrol total atas fisik. Terutama peran onnagata yang memegang penuh film ini, bukan sekadar transformasi kostum, melainkan perubahan menyeluruh seperti:

  • gerakan postur tubuh yang harus lentur
  • langkah yang harus terukur
  • suara yang dikendalikan
  • ekspresi yang ditata
  • menjiwai seni kabuki

Film ini menyorot detail-detail kecil yang jarang mendapat perhatian. Gerakan kaki yang tampak sederhana ternyata menyimpan makna. Sudut tangan yang presisi bukan sekadar estetika, melainkan hasil latihan panjang dalam menjiwai peran sebagai aktor. Keindahan di atas panggung hadir melalui repetisi dan disiplin, yang pada akhirnya memperlihatkan betapa melelahkan dan kerasnya kehidupan seorang aktor kabuki.

Kabuki film

Sisi Gelap di balik Keindahan Seni

Sang-il terlihat cermat memainkan jarak pandang. Ada momen ketika kamera menempatkan kita sebagai penonton pertunjukan, yaitu duduk, mengamati, menjaga jarak. Namun di adegan lain, Titipers akan dibawa masuk ke ruang yang lebih intim: ruang rias, ruang latihan, ruang kelelahan yang sunyi.

Perpindahan ini menciptakan pengalaman yang unik. Film ini membangun kedekatan emosional melalui perjalanan Kikuo menjadi aktor kabuki terkenal di Jepang. Kamera mengikuti perubahan usia, dinamika emosi, serta transformasi artistik dengan ritme yang terasa organik.

Kabuki tidak hanya terlihat sebagai pertunjukan yang selesai di panggung, tetapi sebagai kehidupan yang terus berlangsung di baliknya. Panggung dan belakang panggung tidak lagi menjadi dua dunia terpisah, melainkan satu ekosistem emosional.

Tradisi, Ambisi, dan Harga yang Dibayar

Film Kokuho menampilkan kabuki sebagai tradisi yang bukan hanya kaya secara estetika, tetapi juga dibangun oleh struktur dan hierarki yang kuat. Dunia ini digambarkan memiliki aturan yang tak selalu diucapkan, ekspektasi yang tinggi, serta tekanan yang menjadi bagian dari keseharian para pelakunya. Film ini tidak memposisikan tradisi secara hitam-putih, melainkan memperlihatkan bagaimana keindahan dan tuntutan berjalan beriringan.

Film Kokuho

Di balik panggung yang megah, film ini juga menelusuri tema ambisi. Dedikasi terhadap seni digambarkan sebagai kekuatan yang mampu mendorong seseorang melampaui batas dirinya, namun pada saat yang sama dapat menghadirkan beban emosional. Ambisi dalam film ini terasa kompleks, tidak hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang ketekunan, pengabdian, pengorbanan, dan konsekuensi personal.

Melalui perjalanan para karakternya, Kokuho memberi kesan bahwa menjadi besar dalam dunia kabuki bukanlah sesuatu yang datang tanpa harga. Ada usaha panjang, tekanan tradisi, dan beban psikologis yang menyertainya. Film ini secara halus menunjukkan bahwa pencapaian artistik sering kali lahir dari proses yang tidak ringan.

Film yang Sangat Layak Ditonton

Kokuho berhasil menampilkan tradisi kabuki sebagai dunia yang hidup, bukan sekadar pertunjukan panggung. Film ini memberi ruang bagi penonton untuk melihat proses, disiplin, dan ketelitian yang membentuk setiap penampilan. Dari latihan hingga pementasan, semuanya terasa menunjukkan bahwa kabuki adalah tradisi seni yang dijalani dengan keseriusan dan dedikasi.

Titipers yang belum familiar dengan kabuki, film ini menjadi pengantar yang kuat sekaligus pengalaman visual yang memikat. Di tengah era teknologi digital, Kokuho terasa seperti pengingat bahwa seni pertunjukan memiliki jiwa dan kehadiran yang tidak mudah tergantikan. Jika masih penasaran dengan kabuki, film ini sangat worth it untuk ditonton di bioskop.

Jangan lupa ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Sumber gambar: imdb
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang