Review Live Action 5 cm Per Second – Kehampaan Kenangan Indah
Setelah diserang dengan sesaknya cinta di versi anime-nya, sekarang kita akan membahas mengenai film live action dari 5 cm Per Second


Film anime 5 cm Per Second karya Makoto Shinkai memberatkan hati bagi para penontonnya karena cerita yang begitu dalam, sekaligus merefleksikan kenyataan. Kini, film tersebut dikembalikan lagi ke dalam versi live action yang baru saja tayang di bioskop Indonesia.
Tepat pada tanggal 30 Januari 2026, film live action 5 cm Per Second tayang di bioskop Indonesia, dan yang menurut mimin menampilkan beragam berbagai macam hal baru ke dalam cerita versi satu ini.
Mari kita ulas mengenai film live action 5 cm Per Second
Kehidupan Hampa


Cerita live action 5 cm Per Second membawakan kembali cerita dari seorang pemuda bernama Takaki Tono dalam menjalani hidup nya. Seorang pemuda yang menjalani kehidupan kantoran seperti biasa mulai merasa jenuh dengan keadaannya, sebuah harapan untuk menjalani hidup sebaik mungkin sekaligus mendapatkan akhir yang selalu diharapkan.
Kenangan yang selalu dibawa Takaki selama masa kecilnya membuat seluruh pertemuan dengan semua orang terasa sangat-sangat singkat sekaligus menutup dirinya terhadap orang lain. Terutama kenangan singkat yang tidak dia lupakan ketika menduduki bangku sekolah dasar bersama Shinohara Akari. Kenangan yang diliputi dengan sebuah perasaan senang, rindu, dan mendapatkan sesuatu yang baru semua dialami kedua siswa ini hingga pada akhirnya semua itu hilang dalam sekejap mata.
Selama beberapa tahun Takaki selalu memegang kenangan singkat itu, walaupun hal itu terjadi dia selalu berusaha untuk maju lalu menemukan keyakinan bahwa apa yang dia kerjakan akan membuahkan hasil dan mendapatkan penutup yang dia inginkan bersama kenangan itu.
Sebuah janji antara Takaki dan Akari di bawah pohon sakura untuk bertemu kembali pada 29 Maret 2009 ketika meteor yang dikabarkan membuat Bumi musnah, atau hal lain yang menunggu kehidupan hampa terus berjalan?
Sebuah Janji Untuk Hari Kiamat


Jujur dulu ini pertama kali mimin nonton 5 cm Per Second, mimin pertama kali melihat versi live actionnya dulu. Ketika mimin menonton versi live action, alur ceritanya dibuat maju mundur dan ceritanya dimulai ketika Takaki sudah dewasa. Kerja sebagai programmer ketika dewasa dan sangat serius dalam menjalani pekerjaannya hingga pada akhirnya kehampaan itu melanda. Kemudian cerita berjalan mundur ke belakang ketikan Takaki memegang kenangan indah yang dibuat dengan Akari di bangku sekolah dasar. Lalu Maju melihat keadaan Takaki hingga balik lagi ke masa SMA nya… Eh, ada cerita yang ketinggalan ketika dia SMP bertemu dengan Akari. Mimin rasa, dibuat alur seperti ini cukup membingungkan ditambah tanpa adanya narasi yang jelas dengan ekspresi yang bisa dibilang cukup dingin yang muncul tanpa melihat tatapan yang dibuat Takaki kepada semua orang yang dia temui sejak dia bertemu Akari.
Kenangan bersama Akari terlihat sangat jelas di setiap flashback yang diberikan. Percakapan singkat terhadap meteor yang mengakhiri Bumi menjadi kunci utama di dua tokoh ini, membuat kesan judulnya agak berubah. Tapi selang waktu berjalannya film, judul 5 cm Per Second terlihat sangat jelas dengan semakin jauhnya kedua orang ini ditambah setting waktu di era 2010-an ke bawah, dimana handphone baru saja memasuki era handphone lipat layaknya Sony Ericsson. Jadi hubungan antara Akari dan Takaki kian menjauh.
Walaupun kenangan terlihat jelas, ada sebuah perasaan tumbuh di hati mimin yang mengatakan kalau kenangan yang dibuat Akari dan Takaki juga kurang kuat di film live action ini, sampai-sampai mimin membuat perasaan “apakah benar hal itu bisa benar-benar membuat hal yang sangat berdampak ketika sampai dewasa?”. Memang benar cinta monyet, tapi kurang terasa karena kenangannya hanya berjalan beberapa waktu saja dan perlu diingat bahwa semua film akan membawa kita kepada kenyataan pahit bahwa semua hal tidak akan berjalan semulus itu. Janji yang dibuat hanya dalam kurun waktu kurang dari satu hari terkesan sangat sepele ketika beranjak dewasa, dan Takaki adalah korbannya.


Ketika mimin nonton versi film anime-nya, semua terlihat sangat jelas… alur yang dibuat sangat berbeda dengan versi live action dan terkesan rapi dengan jeda dan narasi dari karakternya sendiri. Takaki memberikan penjelasan atau narasi kepada keadaan dirinya ditambah anggapan setiap karakter yang berbeda untuk Takaki termasuk diri mereka sendiri adalah hal yang membuat mimin paham terhadap jalannya cerita plus perasaan masing-masing. Berbeda dari versi live action, yang terlihat seperti seorang anak laki-laki yang hidup biasa saja tanpa memandang orang lain membuat tidak tahu sampai akhir cerita bahwa sebenarnya Takaki menunggu seseorang. Versi live action lebih memperlihatkan karakter lain dengan kata-kata yang diucapkan yang memiliki hubungan dengan Takaki seperti Risa Mizuno dan Sumida Kanae.
Hari Kiamat Tak Kunjung Datang


Dibalik semua kenangan dan harapan itu, Takaki berharap ada yang menemaninya kembali di bawah pohon sakura di tengah musim dingin. Semua scene ikonik direplika ulang dalam versi live action dengan sedikit bumbu yang membuat interaksi karakter Takaki dengan orang lain terlihat sangat jelas, namun seperti yang mimin katakan sebelumnya bahwa karakter Takaki disini cukup dingin jadi karena kurang menunjukkan dirinya sendiri dengan perkataan dan hanya dijelaskan melalui pertanyaan yang diberikan karakter lain. Hal bagus dan sedikit penurunan menurut mimin di sifat karakter dibandingkan versi anime yang bisa dibilang cukup ekspresif kepada orang lain dan ini ditunjukkan cukup jelas di anime.
Rasakan kenyataan pahit di sebuah film itu menurut mimin sangatlah tidak enak, mengingat sebuah film adalah tempat untuk menghibur diri. Ini sama sekali bukan berarti hal buruk, melainkan membawakan nuansa film yang baru buat kalian penggemar dunia perfilman.
Mimin merasa senang dan tak senang bahwa komet yang dikabarkan ternyata tidak jatuh ke Bumi untuk mengakhiri cerita, sisi senangnya adalah ditunjukkan bahwa Takaki berubah menjadi lebih baik sebagai pria dewasa, namun sisi tak senangnya adalah dia tidak mendapatkan apa yang pantas untuk dirinya dan sebaiknya kiamat benar-benar tiba di cerita live action 5 cm Per Second.
Lagu ikonik dari anime 5 cm Per Second, “One More Time, One More Chance” dari Masayoshi Yamazaki kembali.
Sisi yang mimin suka adalah development yang diberikan Takaki di akhir cerita yang menunjukkan sosok pria dewasa yang sesungguhnya untuk menghadapi semua hal, dan ini membuat mimin kagum. Begitulah review live action 5 cm Per Second.
Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang