Sudah seminggu sejak Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle tayang di Jepang dan terus menerus memecahkan rekor box office, termasuk yang sebelumnya dipegang oleh Mugen Train. Akun resmi mereka menyatakan perhitungan box office film ini per tanggal 27 Juli sudah mencapai 10 miliar yen dalam waktu 8 hari, menjadikannya film tercepat yang mencapai rekor ini. Saat ini, Infinity Castle sudah masuk jajaran film ke-29 dengan pendapatan terbesar sepanjang sejarah.
Rekor tercepat 10 miliar sepanjang sejarah sebelumnya dipegang oleh Mugen Train yang berhasil melaukannya dalam 10 hari. Sementara Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle berhasil meraup 12,87 miliar yen dalam waktu 10 hari. Untuk total box office, film ini hanya kalah oleh etective Conan: One-eyed Flashback yang sudah mendapatkan total 14,5 juta yen di box office. Tapi mengingat umur penayangannya yang masih panjang, sangat mungkin kalau Infinity Castle akan berhasil menjadi film terlaris tahun 2025.
Ichijinsa merilis pengumuman bahwa Kazuya Minekura akan mengerjakan kembali manga Wild Adapter beriringan dengan situs web manga Ichijin Plus kembali setelah pemeliharaan di tanggal 8 Agustus. Chapter ke-50 dari manga tersebut akan menjadi chapter pertama setelah hiatus selama 9 tahun sejak chapter ke-49 rilis di situs Zero-Sum Online milik Ichijinsa di tahun 2016.
Manga Wild Adapter berkisah tentang pemimpin mudah sebuah geng bernama Makoto Kubota yang memungut seorang bocah dengan masa lalu misterius, Minoru Tokitoh. Minoru telah terkena obat W.A.” yang mengubah tangan kanannya menjadi bentuk monster. Mereka berdua menyelidiki asal dari obat yang menghancurkan dunia bawah tanah.
Ichijinsha melambatkan serialisasi Wild Adapter dan Saiyuki Reload Blast karya beliau sejak tahun 2013 karena kondisi kesehatannya. Belum lama ini juga beliau melanjutkan Saiyuki Blast pada bulan September 2024 setelah hiatus lima tahun.
Bandai Namco Entertainment dan FromSoftware announced mengumukan bahwa ekspansi DLC Shadow of the Erdtree DLC untuk game Elden Ring sudah beredar 10 juta unit secara global dan game Elden Ring: Nightreign sudah beredar lebih dari 5 juta unit secara global. Kedua game tersebut termasuk penjualan digital.
Bandai Namco Entertainment juga merilis trailer baru untuk mode dua player Elden Ring: Nightreign. Mode ini akan rilis tanggal 30 Juli.
The Computer Entertainment Supplier’s Association (CESA) mengumumkan pengumuman penghargaan CEDEC2025 (Computer Entertainment Developers Conference 2025) awards on Wednesday. The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom masuk ke dalam salah satu kategori pemenang. Ada pun pemenang lengkapnya bisa dicek sebagai berikut berikut kateogirnya:
The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom (Nintendo) memenangkan Engineering Division. Astro Bot (Team ASOBI) memenangkan Game Design Division. Silent Hill 2 (Konami Digital Entertainment Co., Ltd. Bloober Team S.A.) memenangkan Sound Division. 3D人-3dnchu (Yamato3D) memenangkan Visual Arts Division. Nobuo Uematsu memenangkan hadiah khusus untuk komposisinya dalam berbagai macam game seperti Final Fantasy.
Bandai Card Games mengumumkan bahwa mereka akan merilis closed beta test di seluruh dunia untuk mobile card game Gundam Alysion di perangkat iOS dan Android pada bulan Agustus. Peserta dibatasi hingga 10.000 dan pendaftarannya akan ditutup tanggal 3 Agustus.
Melalui closed beta test ini, pengembang akan menguji sistem game, server dan mengumpulkan masukan dari para peserta.
Digimon Alysion memperkenalkan karakter protagonis dalam gamenya bernama Kanata Hondo bersama dengan karakter-karakter lain yang akan muncul di gamenya mulai dari gadis berambut putih-twintails bernama Futre, Valner Dragnogh bersama partnernya Renamon, dan digimon baru yang akan menemani protagonis di game ini bernama Gemmon.
Kadokawa merilis video musik “Invincible(ish) Happiness!,” salah satu dari lagu baru untuk serial light novel Haruhi Suzumiya karya Nagaru Tanagiwa. Lagu ini juga sudah tersedia di layanan streaming.
Masih ada dua lagu yang diproduksi setelah goal ketiga terpenuhi di kampanye crowdfunding bulan November tahun kemarin.
Satoru Kōsaki, the composer of The Melancholy of Haruhi Suzumiya anime’s background music and its song “God knows…”, scored the first of the added songs. Tsubasa Ito (The Legend of Heroes: Trails of Cold Steel – Northern War, Ron Kamonohashi’s Forbidden Deductions, Skeleton Knight in Another World) will compose the second added song.
Selain itu, proyek ini juga akan mencakup pembuatan drama suara asli baru, yang dibintangi oleh para pemeran Brigade SOS: Aya Hirano, Tomokazu Sugita, Minori Chihara, Yūko Gotō, dan Daisuke Ono. Drama ini akan menjadi hadiah pendukung yang sangat dinantikan oleh penggemar setia seri ini.
Staf film live-action Wind Breaker adaptasi dari manga berjudul sama karya Satoru Nii merilis trailer baru dengan tiga karakter tambahan.
para pemeran baru adalah (gambar di bawah ini dari kiri ke kanan):
Rikako Yagi sebagai Kotoha Tachibana Kōki Yamashita sebagai Chōji Tomiyama Noritaka Hamao sebagai Jō Togame
Film live-action Wind Breaker direncanakan tayang di Jepang tanggal 5 Desember. Belum ada informasi soal penayangan di Indonesia.
Film ini disutradarai oleh Kentaro Hagiwara, yang sebelumnya mengarahkan live-action Tokyo Ghoul (2017) dan Blue Period (2024), dengan skenario ditulis oleh Yosuke Masaike, pemenang Japan Academy Prize ke-46 untuk Anime Supremacy!.
Komik Wind Breaker sudah terbit di Indonesia melalui penerbit Phoenix Gramedia Indonesia. Berikut sinopsis dari Gramedia:
Mereka adalah kelompok berandalan terkuat, sekaligus pahlawan kota. Dengan nilai akademis terendah, tapi nomor 1 dalam bertarung. SMA Furin terkenal sebagai sekolah penuh berandalan. Musim semi ini, Haruka Sakura datang ke kota untuk mengincar posisi puncak di sana. Tapi dia dihadapkan pada kenyataan bahwa SMA Furin telah berubah menjadi kelompok pelindung kota yang dijuluki “Bofurin”. Sakura pun, bergabung menjadi anggota Furin dan mulai bertarung demi melindungi kota!
Akun X (dulunya Twitter) resmi dari majalah Comptiq milik Kadokawa dan website free manga Type-Moon Comic Ace mengungkap bahwa event terbatas “Tokugawa Restoration Labyrinth, Ooku” (Tokugawa Kaiten Meikyū Ōku) di game mobile Fate/Grand Order akan mendapatkan adaptasi manga yang digarap oleh desainer karakter ReDrop. Tanggal rilis manga ini akan diumumkan lebih lanjut. ReDrop adalah desainer dari karakter Kama, karakter utama dari kisah event terbatas “Tokugawa Restoration Labyrinth, Ooku.”
Event ini pertama kali rilis di game versi Jepang tahun 2019. Lalu di versi Bahasa Inggris baru rilis di tahun 2021.
Deskripsi kisah “Tokugawa Restoration Labyrinth, Ooku” di website game Fate/Grand Order:
Markas jadi sunyi senyap dan nyaris kosong karena serangan dari luar. Master dipanggil untuk bergegas ke Control Room dan berhasil selamat bersama satu Servant dan melakukan Rayshift untuk mencari penyebabnya. Mereka tiba di Jepang tengah abad ke-17 – Periode Edo. Di bagian dalam Kastel Edo, pusat dari masalah ini, keganjilan yang abnormal terus berkembang. Kastel Ooku, bagian yang terpisah dari dunia sudah berubah menjadi labirin tak berujung dengan misteri yang pekat. Party Master berkelana ke jalan tiada yang membentang mencari jalan keluar.
Trailer terbaru dari film Chinmoku no Kantai Hokkyoku-kai dai kaisen (The Silent Service: The Battle of the Arctic Ocean) yang merupakan sekuel dari proyek adaptasi live action manga Silent Service karya Kaiji Kawaguchi sudah dirilis. Trailer film ini mengungkapkan lagu tema dan juga poster terbaru.
Trailer sekuel Silent Service kali ini mengungkapkan lagu tema yang dibawakan oleh Ado dengan judul Kaze to Watashi no Monogatari” (The Tale of The Wind and I). Lagu ini ditulis oleh Hiroji Miyamoto dan aransemen oleh Mafumafu.
Film ini akan rilis di tanggal 26 September 2025. Kohei Yoshino bertindak sebagai sutradara dan naskah ditulis Hikaru Takai.
Kawaguchi (Eagle, Kūbo Ibuki) serialized the manga in Kodansha’s Morning magazine from 1988 to 1996. The manga already inspired a television anime special from Sunrise in 1996, followed by Sunrise’s two-part original video anime from 1997 to 1998. Central Park Media offered the anime on videotape and later DVD.
Di Indonesia, ada beberapa manga karya Kawaguchi yang diterbitkan oleh Level Comic dari Elex Media Komputindo, di antaranya Eagle dan Zipang.
Neon Genesis Evangelion, meskipun menjadi salah satu waralaba paling sukses dalam genre mecha, sebenarnya tidak pernah benar-benar berfokus pada pertarungan antar robot raksasa. Seri ini selalu memprioritaskan karakter-karakter “berantakan” yang menjadi pilot EVA, serta perjuangan batin yang mereka hadapi dalam menghadapi berbagai skema misterius dan serangan Angel.
Meski begitu, Evangelion tetap menghadirkan beberapa mech paling ikonik yang pernah ada. EVA Unit-01, dengan desain ramping dan penuh gaya, telah menjadi semacam maskot tidak resmi genre mecha selama lebih dari tiga dekade sejak debutnya. Dan posisi itu tampaknya tidak akan bergeser dalam waktu dekat.
Sebagian besar kemampuan EVA dalam pertempuran memang sangat bergantung pada siapa yang menjadi pilotnya, tapi tidak dapat dipungkiri–mereka adalah unit yang sangat kuat. Berikut daftar lengkap setiap unit EVA yang pernah muncul, diurutkan dari yang paling lemah hingga yang paling luar biasa kuat.
10. EVA-05
Debut eksplosif Mari Makinami Illustrious dalam waralaba Evangelion terjadi di film kedua Evangelion: 2.0 You Can (Not) Advance, di mana ia mengemudikan EVA Unit-05 yang tampil sangat berbeda dari unit lainnya. Tidak seperti desain humanoid pada umumnya, EVA-05 justru berbentuk seperti mesin berkaki empat dengan roda di bagian bawah tubuhnya. Ia juga menjadi unit pertama yang memiliki sumber daya internal, sehingga tidak lagi bergantung pada kabel umbilical.
Sayangnya, EVA-05 hanyalah prototipe sementara yang belum sepenuhnya selesai saat diturunkan ke medan tempur. Persenjataannya terbatas dan fungsinya cenderung spesifik. Namun meski begitu, Unit-05 tetap berhasil mengalahkan Third Angel yang berhasil melarikan diri di Evangelion: 2.0.
9. EVA-00
Sebagai unit pertama yang berhasil diaktifkan, EVA Unit-00 milik Rei Ayanami adalah prototipe awal dari semua Evangelion yang ada. Ia menjadi tonggak keberhasilan pengembangan EVA, meskipun desain dan kemampuannya jauh lebih terbatas dibanding unit-unit berikutnya. Tampilan EVA-00 juga lebih polos, mencerminkan statusnya sebagai purwarupa. Namun, ketangguhannya tidak bisa diremehkan begitu saja.
Dalam beberapa momen penting, EVA-00 menunjukkan daya tahan luar biasa. Ia mampu menahan sinar partikel kuat milik Ramiel saat melindungi EVA-01, dan bahkan bertahan dari ledakan ranjau N2 saat menghadapi Zeruel. Meskipun tidak dikenal karena serangan ofensifnya, Unit-00 beberapa kali memasuki mode berserk, menjadikannya lebih agresif dan berbahaya dari yang terlihat.
8. EVA-03
Penonton tidak banyak melihat EVA Unit-03 sebelum insiden tragis yang membuatnya terkenal itu terjadi. Unit ini awalnya ditujukan untuk dipiloti oleh anak keempat sekaligus sahabat Shinji, Toji Suzuhara. Sayangnya, Toji belum sempat benar-benar menunjukkan kemampuannya di medan tempur, karena sebelum pelatihan selesai, EVA-03 justru terinfeksi oleh Thirteenth Angel, Bardiel.
Sebagian besar kehancuran yang disebabkan oleh EVA Unit-03 bukan berasal dari kekuatan alaminya, melainkan karena kekacauan brutal yang disebabkan oleh Bardiel yang mengendalikannya dari dalam. Dari segi desain, unit ini sangat mirip dengan EVA-02 milik Asuka, hanya dibedakan oleh warna cat dan sedikit perbedaan visual lainnya. EVA-03 berpotensi kuat, tetapi sayangnya nasibnya tak pernah berkembang lebih jauh.
7. EVA-08
EVA Unit-08 adalah salah satu unit unik yang dipiloti oleh Mari Makinami Illustrious, dan pertama kali muncul dalam Evangelion: 3.0 You Can (Not) Redo. Unit ini kembali muncul dalam film terakhir Evangelion: 3.0+1.0 Thrice Upon a Time, saat Mari mengucapkan selamat tinggal pada Evangelion. Dari segi bentuk, Unit-08 masih mempertahankan siluet khas EVA, tapi tampil mencolok dengan desain merah muda dan putih, lengkap dengan tanduk dan beberapa mata tambahan di kepalanya.
Sayangnya, kemampuan tempur Unit-08 tidak terlalu banyak diperlihatkan di layar. Dalam Evangelion: 3.0, unit ini lebih berfungsi sebagai pendukung, seperti saat Mari membantu pergerakan Asuka dan Shinji dari kejauhan. Namun, penggunaan senapan runduk dalam pertempuran menunjukkan bahwa Unit-08 kompatibel dengan berbagai jenis senjata.
6. Mass Production Evangelion
ini digadang-gadang sebagai yang paling mengerikan di seluruh seri, dan bukan hanya karena penampilan mereka. EVA tanpa mata berwarna putih pucat ini terlihat menyeramkan, dengan sayap mekanis dan suara geraman seperti binatang buas. Berbeda dari unit-unit lain, mereka dilengkapi dengan S2 Drive yang membuatnya mampu bergerak secara mandiri tanpa kabel atau baterai.
Namun dari segi kekuatan, mereka mungkin tidak sekuat yang terlihat. Asuka sempat mengalahkan mereka satu per satu dengan relatif mudah dalam The End of Evangelion, meskipun akhirnya ia kalah karena Unit-02 kehabisan daya. Energi mereka yang tak terbatas, jumlah yang banyak, dan replika Tombak Longinus yang mereka gunakan membuat perlawanan Asuka tidak bisa bertahan lama.
5. EVA-02
Dari tiga Unit Evangelion asli yang diperkenalkan pada Neon Genesis Evangelion tahun 1995, Unit-02 milik Asuka mungkin berada di urutan kedua dalam hal popularitas dan daya tarik visual. Bisa dibilang, hampir semua adegan aksi paling ikonik dalam seri ini melibatkan EVA yang satu ini. Dalam pertempuran, Unit-02 sama agresifnya dengan sang pilot, dan bisa dikustomisasi secara ekstensif untuk berbagai jenis pertempuran.
Dalam versi Rebuild, Unit-02 bahkan mendapat peningkatan signifikan. Salah satunya adalah akses ke Beast Mode, sebuah sistem yang menonaktifkan semua pembatas pada EVA dan membuatnya bertarung seperti binatang buas. Dalam mode ini, Unit-02 sanggup menembus beberapa lapisan AT Field sekaligus, meskipun tetap dibatasi oleh baterai internal yang cepat habis.
4. EVA Mark.09
Tidak seperti sebagian besar Unit EVA bernomor lainnya, EVA Mark.09 tampaknya tidak membutuhkan sumber daya eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa unit ini dibekali dengan S2 Drive, mirip seperti seri EVA yang diproduksi massal. Keunggulan ini saja sudah membuatnya jauh lebih unggul dalam hal daya tahan dan fleksibilitas di medan tempur.
Namun, yang benar-benar membuat Mark.09 unik adalah kenyataan bahwa seluruh tubuhnya berfungsi sebagai Core. Berbeda dengan EVA lain yang memiliki inti di bagian dada, desain ini memungkinkan Mark.09 untuk beregenerasi dari hampir semua bentuk kerusakan—bahkan saat kehilangan kepalanya, seperti yang terlihat di Evangelion: 3.0. Ditambah lagi, unit ini juga bisa menggunakan berbagai jenis senjata seperti halnya unit standar lainnya.
3. EVA Mark.06
Mark.06 adalah unit pertama dari seri “Mark” yang diperkenalkan di semesta Rebuild of Evangelion. Dibangun di pangkalan bulan dan dikemudikan oleh Kaworu, unit ini tampil elegan dengan desain ramping dan wajah bertopeng khasnya. Ia pertama kali muncul di Evangelion: 2.0, dan langsung menunjukkan bahwa dirinya bukan unit biasa—dapat bepergian dari bulan ke Bumi tanpa dukungan tambahan.
Seperti Mark.09, unit ini juga tampaknya ditenagai oleh S2 Drive, memungkinkan Mark.06 untuk beroperasi mandiri tanpa koneksi eksternal. Uniknya, ia dapat melayang di atas tanah dan memiliki lingkaran cahaya di atas kepalanya. Dalam Evangelion: 3.0, terungkap bahwa Mark.06 menampung Twelfth Angel di dalam tubuhnya. Meski tidak dijelaskan secara rinci, ini bisa menjadi alasan di balik kekuatan besarnya yang belum sepenuhnya terungkap.
2. EVA-01
Evangelion Unit-01 adalah mecha sentral yang langsung dikenali dalam seri ini, dan karenanya, dianggap sebagai salah satu yang paling kuat. Tidak seperti EVA lainnya, Unit-01 diciptakan dari Lilith, bukan Adam, dan hal ini memberinya peran yang unik dalam proyek Human Instrumentality.
Unit ini menjadi jauh lebih kuat setelah menyerap S2 Drive milik Malaikat ke-14, Zeruel, memberinya sumber energi tak terbatas dan menjadikannya entitas seperti dewa. EVA ini juga memiliki jiwa Yui Ikari—ibu dari Shinji—yang berperan penting dalam banyak momen dramatis. Ia sering “hidup” dengan sendirinya, bangkit secara otomatis ketika Shinji berada dalam bahaya, dan menyerang dengan kekuatan brutal yang tak terkendali.
Ketika sayap energi muncul dari punggungnya, itu adalah sinyal bahwa EVA-01 telah melampaui batas sebagai senjata dan berubah menjadi simbol kiamat bagi umat manusia.
1. EVA-13
EVA 13 memang unik di antara unit-unit bernomor Evangelion, tetapi bukan karena penampilannya. Secara visual, EVA ini hanyalah versi yang lebih besar dari Unit-01 yang ikonis, dengan beberapa variasi pada skema warnanya. Yang benar-benar membedakannya adalah sistem dual-entry plug—dua kokpit yang memungkinkan Shinji dan Kaoru mengendalikannya secara bersamaan, seperti yang terlihat dalam Evangelion: 3.0.
Seperti halnya unit-unit overpower lainnya, EVA 13 tidak kompatibel dengan sumber daya eksternal, yang menyiratkan keberadaan S2 Drive sebagai sumber energinya. Namun, yang membuatnya benar-benar menakutkan adalah ketika ia memasuki kondisi Awakened. Dalam mode ini, EVA 13 mampu menggunakan dua Tombak Longinus sekaligus dan melayang bebas di udara. Butuh dua kali tusukan tombak dan pemisahan paksa Shinji dari plug untuk menghentikan amukannya—sebuah bukti bahwa EVA 13 adalah salah satu unit terkuat yang pernah muncul dalam semesta Evangelion.
Itulah deretan Unit Evangelion terkuat yang pernah muncul di sepanjang seri—mulai dari yang legendaris hingga yang muncul di film Rebuild. Masing-masing punya keunikan dan kekuatan sendiri, menjadikan dunia Evangelion semakin kompleks dan menggugah rasa penasaran.
Pertarungan soal siapa Hashira terkuat dalam Demon Slayer memang tak pernah sepi perdebatan. Di balik gemerlap aksi dan emosi yang tersaji dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, para Hashira hadir sebagai simbol kekuatan tertinggi umat manusia. Mereka bukan sekadar pendekar elit, mereka adalah garda terdepan yang mampu menghadapi iblis-iblis terkuat selain Tanjiro dan kawan-kawannya. Setiap pertarungan yang melibatkan Hashira menjadi ajang pembuktian kemampuan mereka yang luar biasa, dan tak bisa dimungkiri, tanpa kehadiran mereka, banyak pertempuran besar di Demon Slayer mungkin berakhir dengan kehancuran.
Meski tak pernah ada pernyataan resmi soal siapa yang paling kuat di antara para Hashira, Demon Slayer tetap menyuguhkan cukup banyak petunjuk. Beberapa karakter secara eksplisit disebutkan memiliki kekuatan luar biasa, sementara yang lain menunjukkan kemampuannya lewat aksi-aksi heroik yang tak terlupakan. Dengan mengamati pencapaian mereka sepanjang cerita, baik dalam duel maupun pengorbanan, para penggemar Demon Slayer bisa mulai menyusun peringkat kekuatan Hashira yang paling mendekati kenyataan.
Lantas, siapa Hashira terkuat dalam Demon Slayer? Dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti keahlian bertarung, daya tahan, kontribusi dalam momen-momen krusial, serta dampak mereka terhadap jalan cerita, kita bisa mulai menakar siapa yang layak menyandang gelar Hashira terhebat. Inilah saatnya menyelami lebih dalam dunia Demon Slayer dan mengungkap siapa yang benar-benar pantas disebut sebagai pendekar pedang nomor satu.
9. Shinobu Kacho – Sang Pilar Serangga
Di antara semua pilar kekuatan dalam Demon Slayer, posisi Shinobu Kocho sebagai Hashira terlemah sebenarnya cukup masuk akal. Bahkan Shinobu sendiri pernah mengakui bahwa ia tidak cukup kuat untuk menebas kepala iblis, yang merupakan sebuah syarat utama untuk membunuh mereka. Namun, menyebutnya “lemah” tentu bukan berarti ia tak berguna. Dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, Shinobu tetap menunjukkan kemampuannya sebagai petarung tangguh, dan dengan kecerdasannya, ia mampu menciptakan taktik mematikan untuk menghadapi para iblis.
Shinobu mungkin tidak memiliki kekuatan fisik luar biasa seperti Hashira lainnya, tetapi ia memiliki senjata rahasia yang khas di Demon Slayer: racun mematikan dari teknik Insect Breathing miliknya. Racun tersebut membuatnya mampu melukai iblis tanpa harus menebas kepala mereka, memberikan keunggulan taktis di medan tempur. Namun sayangnya, teknik ini pun tidak selalu ampuh. Dalam pertarungannya melawan Douma, salah satu Upper Rank yang paling kuat, Shinobu gagal karena Douma mampu menetralisir seluruh racunnya.
Dengan mempertimbangkan semua hal tersebut, gelar Hashira terlemah dalam Demon Slayer memang paling logis jatuh kepada Shinobu. Namun, bukan berarti perannya bisa diremehkan. Justru karena keunikannya, Shinobu memberi warna tersendiri dalam dunia Demon Slayer, membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu soal otot, tetapi juga tentang kecerdasan, kecepatan, dan pengorbanan.
8. Obanai Iguro – Sang Pilar Ular
Obanai Iguro mungkin menjadi Hashira yang paling sedikit mendapat sorotan dalam Demon Slayer, namun bukan berarti kekuatannya bisa diabaikan begitu saja. Meskipun jarang tampil di awal cerita, Iguro menunjukkan kualitas luar biasa dalam pertarungan puncak melawan Muzan Kibutsuji. Gaya bertarungnya yang gesit memungkinkan dia untuk menghindari serangan mematikan sekaligus melancarkan serangan balik secara efektif. Bahkan, ia termasuk dalam sedikit pembasmi iblis yang mampu melihat Transparent World dan mengubah pedangnya menjadi merah tanpa bantuan.
Prestasi tersebut jelas menunjukkan bahwa Obanai bukanlah Hashira biasa di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Meski begitu, perannya dalam pertarungan melawan Muzan lebih bersifat pendukung dibandingkan sebagai petarung utama. Hal ini menempatkan Iguro di posisi yang serupa dengan Mitsuri Kanroji, yakni di lapisan menengah dalam jajaran Hashira. Ia sangat efektif, tapi belum menunjukkan kekuatan penuh dalam skala yang bisa langsung dibandingkan dengan Hashira terkuat lainnya.
Meski perannya terbatas, potensi sejati Obanai Iguro dalam Demon Slayer mungkin jauh lebih besar dari yang ditampilkan. Sebagai Snake Hashira, tekniknya yang khas dan kontrol medan tempurnya sangat mengesankan. Tidak menutup kemungkinan bahwa jika diberi lebih banyak ruang dalam cerita, kekuatan penuh Iguro akan mampu bersaing dengan nama-nama besar lainnya di jajaran Hashira. Ia adalah sosok misterius yang menyimpan kekuatan dalam diam.
7. Tengen Uzui – Sang Pilar Suara
Peringkat kekuatan Tengen Uzui di antara para Hashira dalam Demon Slayer sebagian besar ditentukan oleh pencapaian nyatanya selama cerita berlangsung. Sebagai mantan shinobi dan Sound Hashira, Tengen jelas memiliki fisik dan refleks luar biasa. Namun, dalam satu-satunya pertarungan besarnya melawan Gyutaro, Tengen hampir kehilangan nyawanya dan tidak bisa meraih kemenangan tanpa bantuan Tanjiro serta rekan-rekannya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia memiliki kekuatan fisik yang unggul, hal tersebut saja tidak cukup untuk menjadikannya Hashira terkuat di Demon Slayer.
Jika dinilai secara objektif, performa Tengen dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba membuatnya sulit untuk dipandang sebagai pesaing serius bagi Hashira lainnya. Ia memang tangguh dan karismatik, namun catatan pertarungannya tidak sekuat rekan-rekan Hashira lainnya yang menghadapi ancaman lebih besar secara mandiri. Ketergantungannya pada kerja tim menyoroti kelemahan strategis dalam pertarungannya, meskipun dari sisi keberanian dan semangat bertarung, Tengen tak pernah mundur sedikit pun.
Meski begitu, Demon Slayer tetap menggambarkan Tengen sebagai sosok yang mengesankan dan tak bisa diremehkan. Kecepatan, kelincahan, serta teknik bertarungnya yang khas membuatnya menjadi ancaman nyata bagi iblis mana pun. Walau mungkin bukan yang terkuat secara keseluruhan, Tengen Uzui membuktikan bahwa menjadi Hashira bukan hanya soal kekuatan mutlak, tetapi juga tentang kegigihan dan gaya bertarung yang unik.
6. Giyu Tomioka – Sang Pilar Air
Sebagai Hashira pertama yang diperkenalkan dalam Demon Slayer, Giyu Tomioka langsung memberikan kesan kuat sebagai sosok yang luar biasa tangguh. Ia dengan mudah mengalahkan Rui, salah satu iblis Bulan Bawah, padahal saat itu Tanjiro dan Nezuko kesulitan besar menghadapi musuh tersebut. Tak berhenti di situ, dalam pertarungannya melawan Akaza, Giyu mampu bertahan cukup lama dan memberikan perlawanan yang sengit, meskipun ia tidak pernah benar-benar mengungguli lawannya. Tetap saja, kontribusinya di medan tempur, terutama saat melawan Muzan, sangat signifikan. Ia menjadi salah satu dari sedikit Hashira yang selamat dalam pertempuran terakhir di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba.
Kehadiran Giyu di awal cerita Demon Slayer memang jarang, namun justru hal itu menambah aura misterius dan daya tarik kekuatannya. Ketika akhirnya ia mendapat panggungnya sendiri, Giyu menunjukkan kelasnya sebagai Water Hashira dengan teknik yang elegan namun mematikan. Dengan ketenangan dan kecakapan bertarung yang konsisten, Giyu membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar petarung kuat, ia adalah simbol kestabilan dan pengalaman di tengah kekacauan yang terjadi sepanjang cerita Demon Slayer.
Secara keseluruhan, Giyu Tomioka dengan jelas layak masuk dalam jajaran Hashira terkuat di Demon Slayer. Ketangguhan mental, pengalaman tempur, dan kemampuan bertahan hidupnya di tengah serangan paling mematikan menjadikannya salah satu aset terbesar Korps Pembasmi Iblis. Ia adalah tipe petarung yang mungkin jarang bicara, tapi selalu membuktikan segalanya lewat aksi.
5. Kyojuro Rengoku – Sang Pilar Api
Prestasi Kyojuro Rengoku dalam Demon Slayer sangat sebanding dengan Giyu Tomioka, namun ada beberapa perbedaan penting yang menjadikan Rengoku layak mendapat peringkat lebih tinggi. Keduanya pernah berhadapan dengan Akaza, Upper Rank 3, namun Rengoku mampu menahan serangan jauh lebih sedikit dibanding Giyu. Dalam film Demon Slayer: Mugen Train, Rengoku nyaris mengalahkan Akaza seorang diri, dan meskipun pada akhirnya Akaza melarikan diri karena matahari terbit, pencapaian Rengoku tetap luar biasa, mengingat ia bertarung tanpa bantuan.
Yang membuatnya semakin mengesankan, Rengoku melakukan semua itu tanpa mengaktifkan Demon Slayer Mark, sesuatu yang Giyu butuhkan hanya untuk bertahan melawan Akaza. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan alami dan ketahanan fisik Rengoku berada di level tinggi bahkan tanpa peningkatan khusus. Jika dibandingkan secara langsung, Rengoku dan Giyu mungkin tampak seimbang, namun prestasi Rengoku saat menghadapi Akaza dalam Demon Slayer lebih mencolok dan penuh daya juang, menjadikannya pantas berada di peringkat atas jajaran Hashira.
Sayangnya, Rengoku harus mengalami salah satu kematian paling menyedihkan dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Kehilangan dirinya menjadi pukulan berat bagi banyak karakter dan penggemar, apalagi karena kita tak sempat melihat seberapa besar peran yang bisa ia mainkan dalam pertarungan melawan ancaman terbesar seperti Muzan. Meski demikian, warisan Rengoku sebagai Flame Hashira tetap menyala terang, menjadikannya sebagai simbol keberanian, semangat pantang menyerah, dan pengorbanan sejati dalam dunia Demon Slayer.
4. Mitsuri Kanroji – Sang Pilar Cinta
Mitsuri Kanroji dari Demon Slayer tampil memukau sejak awal kemunculannya, langsung menunjukkan bahwa di balik penampilannya yang manis, tersimpan kekuatan luar biasa. Dalam arc Swordsmith Village, Mitsuri ikut bertarung melawan Hantengu, iblis Upper Rank 4, dan berhasil bertahan dengan baik meski harus bekerja sama dengan Tanjiro dan tim lainnya. Fakta bahwa ia mampu menahan serangan dari salah satu Kizuki tanpa langsung kalah sudah menjadi bukti nyata kekuatannya. Tak heran jika banyak yang menempatkan Mitsuri di posisi menengah ke atas dalam peringkat Hashira Demon Slayer.
Namun, jika dibandingkan lebih lanjut, performa Mitsuri di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba memiliki beberapa catatan penting. Hantengu memang bukan lawan sekuat Kokushibo atau Douma, sehingga pencapaian Mitsuri pun tak sebanding dengan beberapa Hashira lain yang menghadapi musuh lebih tangguh. Ditambah lagi, dalam pertarungan klimaks melawan Muzan, Mitsuri menjadi Hashira pertama yang harus mundur karena kelelahan, menandakan bahwa ketahanannya belum sebaik rekan-rekannya.
Kendati begitu, Mitsuri tetap merupakan petarung tangguh di dunia Demon Slayer. Kecepatannya yang luar biasa, teknik cinta yang unik, serta fleksibilitas pedangnya menjadikannya lawan yang tak bisa diremehkan. Meski tidak termasuk yang terkuat, kekuatan Mitsuri jelas berada di atas rata-rata, menjadikannya sosok Hashira dengan posisi stabil di tengah—dan tetap menjadi bagian penting dari kekuatan utama Pasukan Pembasmi Iblis.
3. Sanemi Shinazugawa – Sang Pilar Suara
Sanemi Shinazugawa adalah salah satu Hashira yang posisinya di puncak kekuatan dalam Demon Slayer dibuktikan secara eksplisit dalam cerita. Dalam pertarungan brutal melawan Kokushibo, iblis Upper Rank 1, Sanemi disebut sebagai salah satu dari dua Hashira terkuat. Tak hanya sekadar julukan, Sanemi membuktikan reputasinya dengan tampil luar biasa—baik dalam menghadapi Kokushibo maupun dalam pertempuran klimaks melawan Muzan. Di saat banyak petarung lain kewalahan, Sanemi tetap mampu memberikan serangan signifikan yang membuat lawan-lawan sekelas iblis terkuat pun terdesak.
Fakta bahwa Sanemi berhasil selamat dari pertarungan terakhir di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba menjadi bukti tambahan atas daya tahannya yang luar biasa. Ia tidak hanya kuat dalam menyerang, tetapi juga memiliki fisik dan tekad yang kokoh untuk bertahan hidup dari pertempuran paling mematikan yang pernah terjadi. Dengan gaya bertarung yang liar dan agresif, Sanemi menjadi momok bagi para iblis, menunjukkan bahwa kekuatan sejatinya bukan hanya hasil latihan, tetapi juga hasil dari kehendak baja yang terus membara.
Namun demikian, meskipun Sanemi menjadi salah satu yang terkuat di Demon Slayer, ia tetap belum mencapai puncak tertinggi di antara para Hashira. Ada satu sosok yang masih berdiri lebih tinggi darinya dalam hal kekuatan dan dampak. Meski begitu, tidak diragukan lagi bahwa Sanemi Shinazugawa adalah salah satu simbol kekuatan sejati Korps Pembasmi Iblis—berani, brutal, dan sepenuhnya tak tergoyahkan di medan perang.
2. Muichiro Tokito – Sang Pilar Kabut
Kemunculan Muichiro Tokito dalam Demon Slayer langsung menegaskan bahwa ia bukan Hashira biasa. Di usia 14 tahun, Tokito telah diakui sebagai seorang jenius muda dalam Korps Pembasmi Iblis. Hal ini dibuktikan saat ia berhasil mengalahkan Gyokko, iblis Upper Rank 5, seorang diri. Pencapaian ini tentu luar biasa, apalagi mengingat bahwa Tokito adalah Hashira termuda dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, menjadikannya sosok langka dengan potensi besar sejak awal.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, pencapaian Tokito dalam Demon Slayer tak lepas dari beberapa catatan. Gyokko memang termasuk salah satu dari Upper Rank yang lebih lemah, dan kemenangan Tokito atasnya baru terjadi setelah ia membangkitkan Demon Slayer Mark—sebuah kekuatan tambahan yang hanya muncul dalam situasi ekstrem. Ditambah lagi, saat menghadapi Kokushibo, iblis Upper Rank 1, Tokito dengan mudah diungguli dan hanya mampu memberi bantuan tanpa benar-benar mengancam.
Meski demikian, Demon Slayer tetap memotret Muichiro Tokito sebagai simbol potensi dan masa depan. Di balik kelemahannya saat ini, tersimpan kekuatan besar yang hanya menunggu waktu untuk berkembang sepenuhnya. Jika diberi kesempatan dan waktu yang cukup, tidak mustahil Tokito suatu hari nanti akan melampaui para Hashira senior lainnya dan menjadi salah satu pendekar terkuat dalam sejarah Demon Slayer.
1. Gyomei Himejima – Sang Pilar Batu
Di antara seluruh Hashira dalam Demon Slayer, posisi Gyomei Himejima sebagai yang terkuat mungkin adalah yang paling mudah dibenarkan. Berulang kali disebut secara eksplisit dalam cerita sebagai Hashira paling kuat, Himejima membuktikan reputasi itu lewat aksinya di medan perang. Ia mampu memberikan kerusakan besar pada Kokushibo—Upper Rank 1 yang legendaris—dan memainkan peran penting dalam pertempuran terakhir melawan Muzan. Tak hanya itu, Gyomei juga termasuk sedikit karakter yang bisa melihat Transparent World, sebuah kemampuan langka yang semakin menegaskan level kekuatannya dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba.
Namun kekuatan Gyomei dalam Demon Slayer tidak hanya datang dari otot dan teknik, tetapi juga dari kompleksitas karakternya yang dalam. Di balik fisiknya yang besar dan kekar, Gyomei menyimpan masa lalu yang penuh tragedi, menjadikannya sosok yang sangat manusiawi. Ia dikenal sebagai pria yang mudah menangis, yang mungkin membuat sebagian orang salah paham dan menganggapnya lemah. Padahal, justru kelembutan hatinya itulah yang memperkuat keteguhan dan semangat juangnya di medan pertempuran.
Dengan mempertimbangkan seluruh aspek—dari kekuatan fisik, teknik tingkat tinggi, kontribusi strategis, hingga kedalaman emosional—Gyomei Himejima dengan mudah dinobatkan sebagai Hashira terkuat dalam Demon Slayer. Ia adalah lambang kekuatan sejati yang dibentuk oleh pengalaman pahit, keimanan yang kuat, dan dedikasi total untuk melindungi umat manusia dari kegelapan. Dalam dunia Demon Slayer, tak ada Hashira lain yang dapat menyamai keseimbangan antara kekuatan brutal dan jiwa luhur seperti Gyomei.
Sekian daftar dari 9 hashira di anime Demon Slayer dari yang terlemah hingga yang terkuat. Bagaimana? Apakah Titipers setuju dengan rangking di atas? Atau punya pendapat lain? Silahkan tinggalkan komentar di bawah yah!
Apakah kalian siap untuk memahami pengetahuan terlarang dunia One Piece dan dihubungkan ke dunia nyata di acara Going Ohara?
Kali ini mimin,akan membagikan pengetahuan termasuk keseruan dalam salah satu acara yang membahas sekaligus berdiskusi dunia One Piece dan menterkaitkannya dengan dunia kita, acara ini disebut dengan Going Ohara.
Acara Going Ohara yang mimin bahas adalah volume keduanya, karena sudah dilakukan untuk kedua kalinya sejak tahun 2024 lalu. Going Ohara 2 dilaksanakan di Jogja, dan tahun ini diadakan di warung sastra pada tanggal 26 Juli 2025. Waktunya dilaksanakan mulai pukul 19.30, menjadikannya cocok buat obrolan malam 🙂
Langsung saja kita menyelam ke pengetahuan terlarang dalam dunia One Piece di Going Ohara 2.
Mendalami Ilmu Dua Dunia
Going Ohara 2 membawakan berbagai komunitas mulai dari komunitas nakama istimewa (nakama jogja), sastra, pelajar, mainan-mainan One Piece, ilmuwan hingga pengajar dalam satu tempat. Pas banget buat kalian yang ingin lebih dalam membahas One Piece karena dikelilingi oleh orang-orang ini. Dunia One Piece yang luas bisa kalian kaitkan dengan ilmu-ilmu dunia nyata karena kita mendapatkan pakar yang kuat dan forum diskusi Going Ohara terus membawakan hal ini ke Nakama.
Going Ohara 2, Diskusi One Piece 1
Terdapat lima narasumber yang akan membawakan diskusi mendalam. Kelima orang tersebut ahli dalam bidangnya, ada pertama kak Faris Ahmad seorang mahasiswa magister filsafat UGM, kemudian ada kak Ilham Hamsah seorang mahasiswa Magister Sejarah UGM, kak Rayvita Margaratia seorang dosen anatomi Universitas Wahid Hasyim, Tan Michael Chandra seorang dosen D3 bahasa Inggris Universitas Pignatelli Triputra Surakarta, dan kak Renanda Yafi seorang Insinyur Tenaga Listrik. Masing-masing narasumber ini tentunya membahaskan topik One Piece dan membawa ke dunia nyata berdasarkan keahlian mereka.
Going Ohara 2, Diskusi One Piece 2
Mulai dari kak Faris Ahmad yang membawakan topik “One Piece, Sains, dan Tuhan”. Kak Faris membahas tentang ketuhanan yang menarik dalam dunia One Piece. Kita diperkenalkan julukan dewa yang muncul seperti Enel dan tentunya Nika, kemudian membahas lebih dalam ke dalam konsep tuhan dalam cerita One Piece. Dirinya menekankan bahwa Dunia One Piece itu kacau balau karena tidak sistematis, dimana adanya campur aduk Tuhan di One Piece yang tidak benar-benar dianggap diragukan muncul dalam cerita “kok bisa disebut tuhan?”. Bahkan kak Faris sendiri tidak suka dengan Gear 5 milik Luffy, dan dikenal dalam cerita sebagai dewa karena konsep-konsep yang diutarakan dalam Going Ohara 2. Bahkan dia mengaitkan teori salah satu tokoh teorits dengan hal ini untuk memvalidasi pernyataan miliknya yang mengatakan menangkap kesetaraan hukum, layaknya permainan dadu.
Kak Rayvita atau dipanggil Mimi membahas topik “Anatomi Tubuh Mustahil : Radiologi dan Imajinasi Dalam Dunia One Piece”, keajaiban tubuh di dunia one piece oleh ahli radiologi di ceritakan melalui diskusi bersama kak Mimi. Kak Mimi mengajak para nakama untuk melihat tubuh one piece sesuai dengan radiologi di dunia nyata. Dirinya menjelaskan perbedaan radiologi dimulai dari Chopper yang bentuk tulangnya juga ikut berubah sesuai perubahannya rusa-rusa melalui ilustrasi presentasi gambar yang disampaikan. Kita diperlihatkan juga pembuluh darah di Luffy seiring perubahan Gear 2, gambar menjelaskan adanya pembuluh darah lebih lebar dan bertambah banyak cabangnya…. Wow. Lalu diperlihatkan hasil pindaian MRI {Magnetic Resonance Imaging} dari perubahan Gear 3 Luffy. Kita diperlihatkan penampakan bentuk tubuh karakter-karakter di dunia One Piece mulai dari manusia ikan, pemakan buah paramecia, bahkan menjelaskan keunikan Law.
Kak Ilham membawakan topik “God Valley, Peristiwa Westerling, Dan Sejarah yang Disembunyikan”. Sejarah adalah bentuk reprentasi. Dirinya membahas secara mendalam mengenai perang di God Valley. Kak Ilham memperlihatkan hubungan sejarah one piece dengan sejarah di dunia nyata. Bahkan dirinya menjelaskan secara detail apa itu sejarah dan menurut pandangan mimin, Kak Ilham lebih menjelaskan mengapa pentingnya hal-hal demikian untuk membuat suatu keunikan dalam kehidupan. Hal ini ada semua dalam cerita One Piece.
Going Ohara 2, Diskusi One Piece 3
Lanjut oleh Kak Michael dengan topiknya “Menimbang One Piece Sebagai Sastra Kanon: Longesivitas, Fleksibilitas, dan Teori-Teori Sastra”. Kak Michael mengedepankan buat dirinya menjadikan One Piece bukan sastra kanon, yang menurutnya One Piece Seharusnya menjadi Sastra Kanon. Pertama ada unsur Longesivitas, karya One Piece ini memiliki durasi pembuatan cerita sangat panjang sekitar 28 tahun. Elemen cerita yang baik membawa fleksibilitas dan membuat hal ini dibilang sebagai Sastra Kanon. Kak Michael bahkan membuat lelucon tentang Oda yang mengetakan bahwa “One Piece akan segera tamat 2 tahun lagi” Eh… Ternyata tidak. Dirinya juga mengetahui Forum oleh warga-warga dunia bagian barat yang sangat serius tentang One Piece. Dirinya bahkan memberikan topik judul buat kalian pejuang skripsi sastra nih. Hal unik lain dari diskusi miliknya, adanya teori Represi Set apparatus di dunia One Piece, sebuah teori politik dari dunia One Piece yang menyerupai Indonesia, dimana World Government sebagai penguasa. Inti dari diskusi ini adalah Kak Michael menganggap bahwa One piece layak menjadi sastra kanon karena memiliki syarat yang sudah disampaikan.
Kak Ofeq, one piece dalam segi tekno politik. Sains dan teknologi. Netralitas adalah mitos dalam dunia nyata seperti dalam pulau Egg Head. Kolonialisme yang menghapus pengetahuan seperti layaknya pulau Ohara dan Void Century. Void Century sendiri belum dijelaskan lebih lanjut di dunia One Piece, hanya dijelaskan oleh Vegapunk bahwa teknologi-teknologi miliknya sudah ada di masa tersebut, kak Ofeq berhasil membawa diskusi ini menjadi lebih menarik karena kasus ini. Sains dalam dalam dunia nyata juga menyerupai Vegapunk, dana riset berasal dari pemerintah dan secara moralitas vegapunk mau tidak mau mengikuti world government atau corporate persis yang terjadi dengan Einstein. Seraphim, pacifista, Smile juga disinggung.
Sesi tanya jawab terlihat seru karena terdapat pertanyaan yang sulit dari nakama mulai dari anatomi tubuh yang diberikan oleh law, apakah bisa bagian hewan diterima otaknya oleh manusia, dan gimana kok bisa? Termasuk penjelasan terkait tentang netralitas dari dunia yang dijelaskan Kak Ofeq. Diakhiri pertanyaan yang menarik, kenapa orang tua di One piece makin kuat seiring bertambahnya umur.
Lautan Nakama
Going Ohara 2, Diskusi One Piece 4
Keseruan Going Ohara 2 tidak akan seru tanpa adanya Nakama yang muncul memenuhi lokasi diskusi di Warung Sastra. Saking banyaknya yang ikut forum ini, banyak yang mendengarkan melalui sisi seberang jalan dari lokasi.
Rasa ingin tahu oleh Pecinta One Piece dan membawakan topik ke dunia nyata, memberikan sejuta ilmu di dalamnya. Mulai dari segi politik, sains, bahkan ke jenjang sastra sangat menarik dibahas di Going Ohara. Mimin sampai pusing kok bisa kepikiran segitunya untuk mendalami sebuah cerita fiksi?!
Going Ohara 2, Diskusi One Piece 5
Going Ohara merupakan acara gratis selama dua tahun terakhir, dan hal ini menjadikan ajang bagi ilmu gratis dengan pendekatan sastra fiksi. Jadi pas banget, sudah unik, menarik, dan layak untuk dikunjungi.
Diskusi Going Ohara 2 juga mengabarkan akan membawa diskusi ini lebih lanjut entah tahun ini atau tahun depan. Jadi topik menarik apa yang akan dibawakan di Going Ohara 3?
Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
LiSA kembali menyulut semangat penggemar Demon Slayer lewat lagu terbarunya, “Zankoku na Yoru ni Kagayake” (Shine in the Cruel Night), yang menjadi salah satu lagu tema untuk film pertama Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle. Lagu penuh emosi ini ditulis dan digubah oleh Yuki Kajiura, komposer legendaris yang selama ini menangani musik latar dan berbagai lagu tema untuk serial anime tersebut.
LiSA “Shine in the Cruel Night” Music Video
LiSA juga menyampaikan pesan:
Bersama Yuki Kajiura-san, yang telah memberikan begitu banyak lagu untuk kita melalui “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba”, saya menuju ke “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle”. Untuk kalian semua yang sedang berjuang. Saya bernyanyi dengan doa dan harapan. “Bersinarlah di Malam yang Kejam.”
Single CD Zankoku na Yoru ni Kagayake telah resmi dirilis di Jepang pada 23 Juli 2025. Buat kamu yang ingin mengoleksi rilisan fisiknya, langsung saja pesan lewat TITIP JEPANG—layanan titip terpercaya dari Jepang yang cepat, aman, dan pastinya resmi. Jangan sampai ketinggalan untuk punya bagian dari momen epik Demon Slayer: Infinity Castle!
Reguler edition CD single jacketTime-limited production edition CD jacket
CD single untuk Taiyo ga Noboranai Sekai, lagu tema film pertama Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle, telah tersedia sejak 23 Juli 2025.
Film pertama dari saga terakhir Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba bertajuk Infinity Castle akhirnya mendapat lagu tema yang sepadan: Taiyo ga Noboranai Sekai (A World Where the Sun Never Rises). Lagu ini dibawakan penuh penghayatan oleh Aimer, yang kembali dipercaya menyuarakan emosi kelam namun penuh harapan dari kisah Tanjiro dan kawan-kawan.
Aimer “A World Where the Sun Never Rises” Music Video
Lagu ini ditulis langsung oleh Hikaru Kondo, produser umum seri Demon Slayer, dan diaransemen oleh Go Shiina, sosok di balik musik latar ikonik animenya.
Dalam pesannya, Aimer mengatakan:
Go Shiina-san dan Hikaru Kondo-san. Keduanya, yang telah mengabdikan diri pada serial anime “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba” dengan semangat yang tak tertandingi, mempercayakan lagu ini kepada saya. Saya bernyanyi dengan Konsentrasi Penuh dengan cara saya sendiri, berniat untuk menyanyikan tentang takdir para karakter saat mereka mengubah kesedihan menjadi kekuatan dan bergegas menuju pertempuran terakhir. Saya harap lagu ini sampai kepada kalian yang masih berjuang di “dunia di mana matahari tak pernah terbit.”
Single CD Taiyo ga Noboranai Sekai telah resmi dirilis di Jepang pada 23 Juli 2025. Bagi kamu yang ingin mengoleksi rilisan fisiknya, kamu bisa memesannya melalui TITIP JEPANG, layanan titip terpercaya langsung dari Jepang—cepat, aman, dan tentu saja, resmi!
Reguler edition CD jacketTime-limited production edition CD jacket
Meskipun saat ini belum ada anime yang mampu menyaingi Demon Slayer dalam hal kesuksesan dan pengaruh besar terhadap industri anime, bukan berarti para penonton tidak bisa menemukan tontonan menarik lainnya setelah menamatkan adaptasi luar biasa dari Ufotable tersebut. Untungnya, ada beberapa anime yang memiliki tema serupa dengan Demon Slayer dan sama-sama menyenangkan untuk diikuti, dimana menjadi pilihan tepat sambil menanti perilisan trilogi film Demon Slayer: Infinite Castle yang sangat dinantikan.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh sang kreator, Koyoharu Gotouge, bahwa kisahnya terinspirasi dari anime legendaris seperti Bleach, Naruto, dan JoJo’s Bizarre Adventure, para penggemar pun dengan mudah dapat menemukan kemiripan dari berbagai sisi. Beberapa anime bahkan memiliki elemen yang nyaris serupa dengan Demon Slayer, baik dari segi latar dunia yang gelap, karakter utama yang ahli pedang, hingga pertempuran melawan makhluk-makhluk mengerikan. Oleh karena itu, bagi para pecinta Demon Slayer, deretan anime ini wajib masuk daftar tontonan Titipers berikutnya.
10. The Elusive Samurai
Salah satu anime yang memiliki kemiripan dalam pengenalan cerita dengan Demon Slayer adalah The Elusive Samurai. Keduanya berlatar di masa Jepang kuno. Meskipun terpaut ratusan tahun, kisah mereka dimulai dengan tragedi yang hampir serupa: keluarga Kamado, kecuali Nezuko, dibantai oleh iblis, sedangkan keluarga dan klan Tokiyuki dihancurkan secara brutal. Baik Tanjiro maupun Tokiyuki memiliki motivasi yang berbeda, dimana Tanjiro ingin menyembuhkan Nezuko, sementara Tokiyuki berjuang memulihkan kehormatan keluarganya, namun keduanya digerakkan oleh rasa keadilan dan semangat balas dendam terhadap musuh yang jauh lebih kuat dari mereka.
The Elusive Samurai lebih menekankan konflik antar tokoh sejarah Jepang. Namun demikian, anime ini juga menyisipkan unsur supranatural dan tragedi yang intens, serta menghadirkan musuh-musuh yang kejam dan haus kekuasaan. Ditambah dengan animasi spektakuler yang memanjakan mata, The Elusive Samurai menjadi tontonan wajib bagi siapa saja yang rindu akan aksi memukau dan ketegangan emosional seperti yang ditawarkan oleh Demon Slayer.
9. Hell’s Paradise
Meski alur ceritanya berbeda jauh, anime Hell’s Paradise merupakan pilihan yang tepat bagi penggemar shōnen dengan nuansa kelam. Perjalanan Gabimaru yang penuh aksi dalam mencari eliksir keabadian demi kembali ke kehidupan normalnya terasa sejalan dengan perjuangan kakak-beradik Kamado dalam Demon Slayer, yang bertarung melawan iblis demi menyembuhkan Nezuko dan mengembalikannya menjadi manusia. Sepanjang misi berbahaya itu, baik Tanjiro maupun Gabimaru dihadapkan pada pertarungan-pertarungan epik yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga sarat makna tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Tak hanya itu, pertarungan dalam Hell’s Paradise menampilkan berbagai teknik pedang unik dari klan Yamada Asaemon, yang mampu memukau para penonton sebagaimana pertarungan memikat dalam Demon Slayer. Hubungan kerja sama yang tumbuh antara Gabimaru dan Sagiri juga mencerminkan kedekatan emosional yang serupa dengan hubungan Tanjiro dan Nezuko. Dalam setiap aksi, mereka saling menjaga dan melindungi satu sama lain, memperkuat pesan bahwa ikatan dan rasa percaya adalah kekuatan utama dalam menghadapi bahaya.
8. Attack on Titan
Meskipun memiliki premis yang sangat berbeda, Attack on Titan dan Demon Slayer sama-sama menghadirkan organisasi khusus dengan sistem peringkat yang terstruktur, yang anggotanya didedikasikan untuk membasmi monster pemakan manusia. Dalam Demon Slayer, Pasukan Pembasmi Iblis memiliki tujuan utama untuk mengalahkan Muzan Kibutsuji beserta para iblis ciptaannya. Sementara itu, Attack on Titan memperkenalkan Survey Corps—pasukan pemberani yang melindungi umat manusia dari ancaman para titan di luar tembok.
Menariknya, perjalanan hidup para tokoh utama dalam Demon Slayer dan Attack on Titan juga dimulai dengan latar tragedi keluarga yang mendorong mereka untuk menempuh jalan balas dendam. Tanjiro kehilangan seluruh keluarganya karena ulah Muzan, sementara Eren menjadi saksi ibunya dimakan titan dan bersumpah akan memusnahkan semua titan. Kedua seri ini pun menghadirkan musuh yang memiliki kemampuan regenerasi luar biasa, sehingga teknik khusus diperlukan untuk menghabisi mereka—paralel yang pasti disukai para penggemar Demon Slayer. Selain itu, atmosfer kelam, pertempuran penuh tensi, serta pengorbanan demi menjalankan misi adalah aspek kuat dari Attack on Titan yang menjadikannya rekomendasi tepat bagi penonton yang menyukai intensitas emosional ala Demon Slayer.
7. Seraph of the End
Perbandingan antara Seraph of the End dan Demon Slayer memang tak bisa dihindari, terutama karena keduanya membuka cerita dengan tragedi memilukan serta menghadirkan organisasi yang berperang demi menyelamatkan umat manusia. Seperti halnya dunia dalam Demon Slayer yang dipenuhi makhluk supranatural berupa iblis, Seraph of the End menghadirkan dunia pasca-apokaliptik yang dikuasai vampir. Tokoh utamanya pun, seperti Tanjiro dan Nezuko, menjadi yatim piatu akibat kekejaman para makhluk tersebut.
Yuichiro Hyakuya dan Mikaela dalam Seraph of the End memiliki hubungan yang mirip saudara, layaknya Tanjiro dan Nezuko dalam Demon Slayer. Namun, hanya satu dari mereka yang berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus, yakni Yuichiro, yang kemudian bergabung dengan Moon Demon Company, sebuah unit tempur elit di bawah Japanese Imperial Demon Army yang ditugaskan untuk memburu dan membasmi vampir dengan senjata khusus. Dengan karakter yang kompleks, jalan cerita penuh kejutan, dan kualitas adaptasi anime yang tinggi, Seraph of the End layak direkomendasikan bagi para penggemar Demon Slayer yang mencari tontonan shōnen penuh aksi dan emosi.
6. D.Gray-Man
D.Gray-Man adalah salah satu anime klasik yang wajib ditonton, terutama bagi penggemar Demon Slayer, karena keduanya memiliki kemiripan dalam alur cerita maupun karakter penjahatnya. Dalam D.Gray-Man, Allen Walker bergabung dengan organisasi Black Order untuk melawan Millennium Earl, sosok antagonis yang sangat mirip dengan Muzan dari Demon Slayer. Keduanya menciptakan makhluk supernatural untuk tujuan jahat, yaitu Akuma dalam D.Gray-Man dan iblis dalam Demon Slayer, serta memimpin kelompok elite yang loyal, yaitu Noah dan Dua Belas Bulan.
Yang membuat D.Gray-Man menonjol adalah skala konfliknya yang jauh lebih besar. Jika Muzan dalam Demon Slayer hanya berambisi mencapai keabadian, maka Millennium Earl mengancam keselamatan dunia secara global, menjadikan pertarungan lebih masif dan penuh tekanan. Walaupun D.Gray-Man memiliki alur yang cenderung lambat dan nuansa yang tidak sekelam Demon Slayer, anime ini tetap menjadi rujukan penting dalam dunia anime shonen. Bahkan, pengaruhnya terlihat dalam karya-karya modern seperti Jujutsu Kaisen. Untuk para penonton Demon Slayer yang ingin menjelajahi anime dengan dunia gelap, organisasi rahasia, dan musuh karismatik, D.Gray-Man adalah pilihan yang tak boleh dilewatkan.
5. Jujutsu Kaisen
Salah satu anime yang paling sering dibandingkan dengan Demon Slayer adalah Jujutsu Kaisen, dan itu bukan tanpa alasan. Meskipun berlatar di era modern, Jujutsu Kaisen memiliki tema supranatural yang kuat serta menyuguhkan pertarungan sengit melawan makhluk jahat, sebuah elemen inti yang juga sangat melekat dalam Demon Slayer. Dalam kisah Tanjiro, anggota Pasukan Pembasmi Iblis harus menumpas Dua Belas Iblis Bulan demi mencapai tujuan utama mereka: mengalahkan Muzan, iblis terkuat. Di sisi lain, Yuji Itadori bersama para penyihir jujutsu bertarung melawan kutukan dan mengumpulkan jari-jari Sukuna, sang Raja Kutukan, untuk menghentikan kekuatannya yang mengerikan.
Baik Demon Slayer maupun Jujutsu Kaisen memperlihatkan tokoh utama yang bergabung dengan organisasi rahasia yang bertugas melindungi umat manusia dari ancaman supernatural, makhluk yang lahir dari ketakutan, kebencian, dan emosi negatif manusia sendiri. Meski sesekali diselingi dengan komedi, kedua anime ini dibalut dengan nuansa tragedi yang kental. Kematian menjadi tema sentral, ketika Tanjiro dan Yuji harus terus menghadapi kehilangan rekan seperjuangan yang gugur demi misi mulia mereka. Untuk para penggemar Demon Slayer, Jujutsu Kaisen adalah tontonan yang menyajikan kombinasi sempurna antara aksi, emosi, dan dunia gelap yang tak kalah menggugah.
4. Dororo
Dororo adalah salah satu rekomendasi terbaik bagi penonton yang mencari anime dengan nuansa seperti Demon Slayer. Selain karena berlatar di masa Jepang kuno dan menghadirkan pertarungan melawan entitas iblis, anime ini juga menonjol lewat kualitas animasinya yang memukau serta koreografi pertarungan yang intens dan memikat—sebuah daya tarik yang juga menjadi kekuatan utama dalam Demon Slayer.
Meskipun kedua protagonis, Tanjiro dan Hyakkimaru, memulai perjalanan mereka dengan tujuan mengalahkan iblis demi memulihkan sesuatu yang hilang, perkembangan cerita mereka justru memperlihatkan makna mendalam dari hubungan antarmanusia yang terbentuk di tengah penderitaan. Dalam Demon Slayer, Tanjiro menemukan keluarga baru lewat rekan-rekannya yang setia, sementara Hyakkimaru menemukan kehangatan dan makna hidup bersama Dororo. Walau Demon Slayer lebih berfokus pada fantasi gelap dan aksi, Dororo menyuguhkan gambaran perang yang brutal dan sisi tergelap dari kondisi manusia. Namun, bagi penonton yang menginginkan kisah yang lebih membumi, mandiri, dan sarat pesan emosional, karya klasik Osamu Tezuka ini akan menjadi pelengkap sempurna setelah menonton Demon Slayer.
3. Inuyasha
Seperti Demon Slayer, Inuyasha juga berlatar di dunia feodal Jepang yang dipenuhi oleh ancaman iblis, dan keduanya banyak mengambil inspirasi dari cerita rakyat Jepang. Dalam Inuyasha, para iblis pun berasal dari kekuatan jahat yang diciptakan oleh sosok antagonis utama, dimana sebuah konsep yang juga digunakan dalam Demon Slayer untuk menyoroti sisi manusiawi dari para iblis melalui latar belakang emosional mereka. Pendekatan ini menjadikan keduanya lebih dari sekadar anime aksi, melainkan juga cerita tentang penderitaan, kehilangan, dan harapan.
Kedua seri ini juga memiliki tokoh antagonis yang sangat ikonik, yaitu Muzan dari Demon Slayer dan Naraku dari Inuyasha, yang sama-sama berkarisma, manipulatif, dan dikelilingi oleh pengikut kuat yang setia pada misi mereka. Walau Demon Slayer jauh lebih kelam dan tragis, Inuyasha menawarkan nuansa romantis yang lebih menonjol. Namun, keduanya tetap memiliki benang merah dalam konflik batin menghadapi kondisi keiblisan: Inuyasha sebagai setengah iblis yang berjuang mengendalikan sisi gelap dalam dirinya, sama seperti Nezuko yang terus menahan naluri iblis demi melindungi Tanjiro dan mempertahankan sisi manusianya. Sebagai anime klasik yang tak lekang oleh waktu, Inuyasha wajib ditonton oleh para penggemar Demon Slayer yang ingin menjelajahi cerita penuh aksi, mitologi, dan konflik batin melawan kegelapan.
2. Fullmetal Alchemist: Brotherhood
Meskipun Fullmetal Alchemist: Brotherhood tidak menampilkan iblis seperti Demon Slayer, keduanya memiliki kesamaan kuat dalam hal hubungan antar saudara. Hubungan Edward dan Alphonse Elric dalam FMAB mencerminkan kedekatan Tanjiro dan Nezuko di Demon Slayer, di mana takdir tragis menjerumuskan mereka ke dalam konflik besar yang mengubah hidup mereka. Keduanya menampilkan perjalanan emosional bersaudara yang berjuang mengatasi kutukan dan penderitaan, demi mengembalikan keadaan seperti semula.
Dalam Demon Slayer, Nezuko dipaksa menjadi iblis, sedangkan dalam FMAB, Alphonse terjebak di dalam baju zirah setelah upaya alkimia gagal. Situasi ini membuat kedua pasangan saudara tersebut memulai perjalanan panjang penuh tantangan demi mengembalikan tubuh mereka ke kondisi normal. Kedua anime ini menonjolkan ikatan keluarga yang sangat kuat, di mana karakter utama rela melakukan apa pun untuk melindungi saudara mereka. Selain itu, Demon Slayer dan FMAB juga mengimbangi ketegangan cerita dengan selipan humor—berkat kehadiran karakter pendukung yang kocak seperti Zenitsu dan Inosuke untuk Tanjiro, serta tokoh-tokoh nyentrik yang menemani Edward. Elemen ini membuat kedua anime terasa seimbang antara emosi, aksi, dan tawa.
1. Blue Exorcist
Dalam Blue Exorcist, tema iblis juga menjadi pusat cerita; mirip dengan apa yang ditawarkan Demon Slayer. Namun, keterlibatan tokoh utamanya dengan dunia iblis jauh lebih langsung. Rin Okumura dan saudaranya bukan hanya korban dari kekuatan jahat, melainkan anak dari iblis terkuat itu sendiri: Satan. Meski memiliki darah iblis, keduanya justru memiliki tekad yang sama dengan Tanjiro di Demon Slayer, yaitu membalas dendam dan menghentikan ancaman para iblis terhadap umat manusia.
Karakter Rin pun memiliki banyak kesamaan dengan Tanjiro dari Demon Slayer. Baik Rin maupun saudaranya bergabung dengan organisasi pengusir iblis demi melindungi manusia. Mereka menjalin ikatan saudara yang kuat, saling menjaga dan siap berkorban. Rin juga menggunakan pedang sebagai senjata utama dan dikenal dengan kepribadiannya yang baik hati, penuh semangat, dan energik—sifat yang membuatnya mudah disukai seperti Tanjiro. Blue Exorcist adalah salah satu anime shōnen yang kurang mendapatkan sorotan, sebagian karena adaptasi awalnya menyimpang dari cerita manga. Namun, dengan dirilisnya musim ketiga baru-baru ini, ini adalah waktu yang tepat bagi para penggemar Demon Slayer untuk menjelajahi dunia eksorsis dan iblis yang tak kalah seru.
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba merupakan salah satu franchise anime dan manga paling fenomenal yang pernah diciptakan, karya dari Koyoharu Gotouge. Berlatar di era Taishō Jepang, kisah ini mengikuti perjalanan Tanjiro Kamado dalam membasmi iblis sekaligus mencari cara untuk menyelamatkan adiknya, Nezuko, yang telah berubah menjadi iblis. Kesuksesan Demon Slayer tidak hanya terbatas pada manga dan serial anime, tetapi juga meluas ke film layar lebar, video game, hingga berbagai spin-off yang memperkaya dunianya. Dengan animasi yang memukau, alur cerita yang mengaduk emosi, serta karakter-karakter yang kuat, Demon Slayer telah menjelma menjadi salah satu franchise dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, dan terus meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah anime.
Dalam podcast Litaku, Elex Media Komputindo mengumumkan kalau mereka akan menerbitkan Dragon Ball Ultimate Edition. Berbeda dengan edisi reguler yang terbit 42 volume, edisi Ultimate ini akan mengambil versi Kanzenban yang juga terbit di edisi Jepangnya. Dragon Ball Ultimate Edition ini akan tamat di volume 34 karena ini merupakan edisi bundle dari edisi reguler.
Edisi ultimate ini akan memiliki halaman yang lebih banyak dan peremejaan gambar dibandingkan versi reguler. Komik ini menggunakan kertas bookpaper dan ukuran 15 x21 cm, ukurannya cukup besar kalau dibandingkan versi reguler. Halaman warna dari edisi Jepangnya juga akan dipertahankan semua dan akan memiliki jaket komik. Untuk edisi ini juga akan diterjemahkan ulang dari awal, tidak menggunakan terjemahan lama. Harga komik ini kemungkinan dibanderol 160 ribuan. Edisi ini agaknya memang ditujukan khusus buat kolektor mengingat spesifikasinya yang dimaksimalkan.
Menurut Editor Niken, selaku editor yang mengampu Dragon Ball Ultimate Edition ini, sebenarnya pihak Elex Media Komputindo sudah lama mengajukan lisensi penerbitan edisi ini dari Shueisha karena permintaan dari pembaca juga sangat banyak. Akan tetapi, Shueisha baru memberikan lampu hijau penerbitan komik ini di tahun kemarin.
Bagaimana Titipers? Sudah tidak sabar untuk menanti komik legend ini terbit kembali di Indonesia?
Dari akun editor Elex Media Komputindo, akhirnya ada angin segar untuk komik Atelier of Witch Hat. Setelah tidak terbit cukup lama sejak volume 8, komik Atelier of Witch Hat 9 akan segera menyambut para pembacanya di toko buku kesayangan Titipers. Rencananya kalau tidak ada kendalan, komik ini akan bisa didapatkan di bulan Agustus.
Tidak hanya berhenti di penerbitan Atelier of Witch Hat 9 saja, tapi lisensi untuk volume 10 dan 11 juga sudah di tangan. Bahkan kabar dari akun editor Elex Media Komputindo menyatakan bahwa volume 10 sudah selesai diterjemahkan.
Menambahkan kabar baik, bagi Titipers yang belum sempat koleksi dari awal, kabar yang beredar juga komik ini akan dicetak ulang dengan format kertas bookpaper. Sungguh kabar gembira mengingat adaptasi animenya jugatak lama lagi akan rilis.
Sinopsis Atelier of Witch Hat dari Gramedia:
Gadis kecil yang tinggal di suatu desa kecil, Coco, sejak dulu bermimpi untuk menjadi penyihir. Akan tetapi, yang bisa menjadi penyihir hanyalah mereka yang memiliki bakat sihir sejak lahir. Apalagi, orang-orang selain penyihir dilarang melihat momen-momen sihir dibuat. Oleh karena itulah, dia menyerah akan mimpi menjadi penyihir. Hingga pada suatu hari, Coco tidak sengaja melihat detik-detik pembuatan sihir ketika seorang penyihir bernama Qiflee berkunjung ke desanya!!
Capcom dan hololive Production resmi meluncurkan proyek kolaborasi terbaru mereka dalam bentuk serial manga yang mempertemukan dunia Street Fighter 6 dengan para VTuber dari hololive. Serial Street Fighter 6 x Hololive ini mulai diterbitkan secara daring sejak 23 Juli 2025 dan langsung menarik perhatian penggemar dari kedua komunitas.
Empat talenta hololive telah dipasangkan dengan karakter Street Fighter
Manga ini digarap oleh ilustrator Kangyū-sensei, yang sebelumnya dikenal melalui karya Ganbare Juri-chan, manga resmi Street Fighter 6. Dalam kolaborasi ini, empat talenta hololive—Usada Pekora, Tokoyami Towa, Shishiro Botan, dan La+ Darknesss—dipasangkan dengan karakter-karakter ikonik dari Street Fighter dan menjalani kisah pelatihan maupun interaksi unik bersama mereka.
Beberapa adegan menarik yang ditampilkan antara lain:
Usada Pekora berlatih sumo di bawah bimbingan E. Honda, memperlihatkan sisi humor dan dedikasinya sebagai calon “pegulat” yang antusias.
Tokoyami Towa menunjukkan kekaguman terhadap kekuatan fisik dan teknik tinju dari Ed, karakter baru dalam Street Fighter 6.
Shishiro Botan menjalani pelatihan intensif bersama M. Bison, sang antagonis utama yang dikenal dengan kekuatan Psycho Power-nya.
Sementara itu, La+ Darknesss terlihat berdiskusi dengan Blanka tentang pengembangan produk merchandise, mulai dari stiker hingga boneka.
Manga kolaborasi “Street Fighter 6 x Hololive” ini merupakan bagian dari kampanye kolaborasi yang lebih luas antara hololive dan Street Fighter 6.
Korea Cartoonist Association and the Korea Webtoon Authors Association mengumumkan pada 22 Juli bahwa mereka merilis petisi yang mendesak ekstradisi operator di balik ‘New Rabbit,’ website pembajakan webtoon besar, dari Jepang ke Korea.
In addition to operating New Rabbit, the operator is alleged to have run other major piracy sites, including Book Rabbit (for web novels) and Mana Rabbit (for Japanese manga).
Selain mengoperasikan New Rabbit, operator tersebut juga disinyalir menjalan situs bajakan lain, termasuk Book Rabbit (untuk web novel) dan Mana Rabbit (untuk manga Jepang).
Asosiasi juga mengklaim bahwa operator situs pembajakan webtoon tersebut selalu menghindari sejak 2022 dari penyelidikan kriminal dengan mendapatkan kewarganegaraan Jepang. Selain petisi, asoasi juga berencana mengadakan konferensi pres di depan Kedubes Jepang di Seoul pada tanggal 11 Agustus, mendesak pemerintah Jepang untuk segera bertindak.
Asosiasi meminta pemerintah Jepang untuk menangkap operator situs, bekerja sama dalam proses ekstradisi, menyita server dan aset yang berada di Jepang dan mendorong perusahaan Jepang untuk bergabung dalam tindakan hukum yang ada.
Edisi ke-35 tahun ini dari majalah Weekly Shonen Jump terbitan Shueisha mengungkapkan kalau manga Sakamoto Days karya Yuuto Suzuki akan masuk ke “final battle” di edisi selanjutnya tanggal 4 Agustus (Chapter 224).
Baca Sakamoto Days Chapter 223 Bahasa Indonesia di mangaplus.
Manga ini juga sudah terbit di Indonesia dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.
Berikut sinopsis dari Gramedia:
Pembunuh Bayaran Legendaris. Taro Sakamoto adalah pria tambun yang mengelola toko di kota kecil. Identitas aslinya adalah mantan pembunuh bayaran legendaris yang ditakuti sekaligus dikagumi oleh semua penjahat! Bagaimana hari-hari Sakamoto dalam melindungi keluarga dan kesehariannya dari serangan bahaya!?