10 Perubahan dalam Adaptasi Anime Solo Leveling yang Mungkin Tidak Kamu Sadari

Adaptasi anime—baik manhwa, manga, maupun light novel—selalu menghadapi tantang besar dalam menerjemahkan cerita ke dalam format yang lebih dinamis dan sinematik. Hal ini juga berlaku bagi Solo Leveling, anime garapan A-1 Pictures yang diadaptasi dari manhwa populer karya Chugong dan Dubu.
Meskipun tetap mempertahankan esensi utama dari kisah Jinwoo, ada beberapa perubahan signifikan yang mungkin tidak Titipers sadari. Beberapa perubahan ini dilakukan untuk menyesuaikan tempo cerita, sementara yang lain bertujuan untuk meningkatkan pengalaman menonton dengan cara yang lebih dramatis dan efektif. Perubahan-perubahan ini mencakup perbedaan dalam karakterisasi, alur cerita, hingga penyesuaian tema tertentu agar lebih universal dan menarik bagi audiens global.
Tanpa disadari, beberapa elemen yang ada di serial aslinya telah disederhanakan atau bahkan dihilangkan, sementara beberapa adegan justru diperluas dan diberikan sentuhan baru. Lantas apa saja perubahan yang terjadi dalam adaptasi anime Solo Leveling? Yuk, simak daftarnya berikut ini!
10. Solo Leveling Telah Menghapus Karakter dari Cerita


Dalam adaptasi anime, beberapa karakter yang sebelumnya muncul dalam manhwa tidak diperkenalkan atau bahkan dihapus. Salah satu karakter yang terkenda dampak perubahan ini adalah Yoo Soohyun, sepupu JInho, yang seharusnya debut di Solo Leveling S2, ep. 7, yang mengadaptasi bab #72 dari manhwa. Padahal, karakter ini memiliki peran yang cukup relevan dalam Ahjin Guild Arc yang akan datang. Kemungkinan besar, anime sengaja menunda debutnya untuk memperkenalkan karakternya di momen yang lebih tepat, sekaligus menghindari kebutuhan mencari seiyuu terlalu dini.

Selain Yoo Soohyun, Hunter Tingkat Nasional Thomas Andre juga mengalami pengurangan porsi dalam anime. Salah satu percakapan pentingnya dengan ketua Goo Hunhee tidak ditampilkan, yang bisa jadi dilakukan untuk menjaga alur cerita tetap fokus. Selain itu, jumlah anggota tim dalam beberapa pertempuran juga dikurangi untuk meringankan beban animator dan menyederhanakan adegan aksi. Contohnya, dalam Arc Red Gate, jumlah anggota tim dikurangi dari 12 menjadi 8, sedangkan dalam Arc Hunters Guild, Strike Team B yang awalnya terdiri dari 17 orang hanya tersisa 9 orang dalam versi anime.
9. Sung Il Hwan Lebih Mengancam dalam Adaptasi Anime

Dalam manhwa, Sung Il Hwan—ayah Sung Jinwoo—memiliki aura misterius yang membuatnya sulit ditebak. Namun, adaptasi anime justru menampilkan karakter ini dengan kesan yang lebih mengancam dan kuat. Salah satu contohnya terlihat dalam Solo Leveling S2, ep. 3, di mana adegan interogasi Hwang Dongsoo terhadap Sung Il Hwan dipersingkat. Akibatnya, anime ini memberi kesan bahwa ayah Jinwoo memulai perkelahian setelah diprovokasi oleh Dongsoo, padahal di manhwa, justru Dongsoo yang lebih dulu menyerang.

Selain itu, anime juga menghilangkan momen ketika Wakil Direktur Biro Hunter Amerika memperlihatkan rekaman video Sung Il Hwan yang menyelamatkan warga sipil dari reruntuhan markas kepada Dongsoo. Padahal, adegan ini cukup penting untuk menyoroti sisi heroik dan karakter aslinya. Perubahan ini kemungkinan dilakukan untuk menciptakan lebih banyak intrik seputar motif dan tujuan Il Hwan, yang baru akan terungkap di bagian cerita selanjutnya.
8. Solo Leveling Season 2 Melewati Tahap Persiapan Menuju Pemburu Level Nasional

Manhwa Solo Leveling membangun secara perlahan-perlahan konsep Pemburu Tingkat Nasional sebelum memunculkannya dalam cerita. Sayangnya, hal ini tidak disertakan dalam adaptasi anime. Beberapa foreshadowing yang ada dalam manhwa, seperti dialog Go Gunhee setelah evaluasi ulang Jinwoo serta penyebutan pertama tentang Pemburu Tingkat Nasional oleh ayah Jinho di bab #78, dihilangkan dalam anime. Padahal, dalam manhwa, ayah Jinho menjelaskan bahwa para pemburu ini adalah yang terkuat di dunia—bahkan bisa menjadi raja di negara kecil.
Selain itu, anime juga menghapus beberapa momen yang memperkuat keberadaan para Pemburu Tingkat Nasional, seperti kemunculan awal Thomas Andre serta penyebutan bahwa Asosiasi Pemburu Jepang ingin Ryuji Goto menyelesaikan gerbang peringkat S agar bisa menjadi salah satu dari mereka. Hilangnya elemen-elemen ini kemungkinan bertujuan untuk tidak terlalu menyorot konsep Pemburu Tingkat Nasional sejak awal, agar tidak mengalihkan fokus dari perkembangan Jinwoo dan alur utama yang sedang berlangsung.
7. Anime Ini Menghilangkan Komedi dari Manhwa Solo Leveling


Meskipun Solo Leveling dikenal sebagai cerita aksi dan fantasi, manhwa-nya tetap menyelipkan elemen komedi yang cukup menonjol. Banyak momen lucu dan ekspresi bergaya chibi yang digunakan untuk menyeimbangkan atmosfer gelap dalam cerita. Namun, adaptasi anime tampaknya lebih memilih untuk mengurangi unsur komedi ini dan menekankan sisi serius serta dramatis dari cerita aslinya. Akibatnya, karakter Jinwoo terasa sedikit berbeda—dalam manhwa, ia memiliki selera humor dan sering menunjukkan ekspresi konyol, sedangkan di anime, ia digambarkan lebih tenang.
Meskipun masih ada beberapa momen komedi dalam anime, seperti saat Jinwoo harus menghentikan Iron agar tidak terus menerus menghancurkan Baruka di Red Gate Arc, adegan-adegan lucu lainnya, terutama kejenakaan Tusk dan Iron dengan prajurit bayangan lainnya, jauh lebih sering terjadi di manhwa. Pengurangan ini mungkin dilakukan agar anime tetap mempertahankan nuansa tegang dan serius yang lebih cocok dengan medium animasi.
6. Pertarungan Terbaik Solo Leveling Diperpanjang dalam Anime

Berkat animasi dinamis dan berkualitas dari A-1 Pictures, pertarungan Solo Leveling telah disempurnakan dalam anime dengan beberapa adegan orisinal yang membuatnya lebih berkesan dibandingkan manhwa-nya. Contohnya, pertarungan Jinwoo melawan Cerberus dan Igris di season pertama. Hal ini semakin ditingkatkan di season kedua, seperti saat Jinwoo menggunakan tangan Penguasa dalam pertarungannya melawan Kargalgan, serta adegan di mana Igris memenggal naga putih Baran—yang dalam manhwa sebenarnya tumbang akibat serangan Tusk.
Selain meningkatkan aksi Jinwoo, anime juga memberi lebih banyak porsi pada karakter pendukung. Dalam Hunter’s Guild Arc, setiap anggota tim Strike B mendapatkan momen tersendiri untuk bersinar. Sementara itu, dalam Jeju Island Raid, para pemburu S-Rank Korea diperlihatkan lebih aktif dalam pertarungan melawan ratu semut, memberi kesan bahwa mereka bukan sekadar latar belakang, tetapi benar-benar berkontribusi dalam pertempuran besar tersebut.
5. Anime Menurunkan Nasionalisme Solo Leveling

Novel web dan manhwa Solo Leveling memiliki sentimen patriotik yang cukup kuat, dengan Korea sering disorot dibandingkan negara lain—terutama Jepang, yang dalam beberapa bagian digambarkan secara negatif. Namun, dalam adaptasi anime-nya, terutama di season kedua, unsur ini tampaknya lebih diredam. Bahkan, sebelum dimulainya Jeju Island Arc, anime sama sekali tidak menyebut Korea secara eksplisit. Selain itu, permusuhan dengan pemburu Jepang juga dibuat lebih halus, tanpa menampilkan mereka sebagai pihak antagonis seperti dalam versi manhwa dan web novel.
Salah satu contohnya adalah menghilangkan adegan pertarungan antara pemburu A-Rank, di mana penerjemah Jepang awalnya meremehkan pemburu Korea tetapi kemudian kalah telak. Anime juga memotong momen ketika sistem memberi tahu Jinwoo bahwa Ryuji Goto ingin membunuhnya selama pertarungan mereka, serta adegan yang menunjukkan betapa takutnya Goto terhadap Jinwoo. Meski perubahan ini membuat kejatuhan para pemburu S-Rank Jepang dalam Jeju Island Raid terasa lebih dramatis, anime secara keseluruhan memang mengurangi kesan antagonisme mereka. Hal ini kemungkinan dilakukan untuk menghindari kontroversi politik dan membuat cerita lebih dapat diterima oleh audiens global.
4. Karakter Penting dalam Solo Leveling Diperkenalkan Jauh Lebih Awal di Anime
Dengan tambahan prolog tentang kegagalan penyerbuan di Pulau Jeju, beberapa karakter—Yoonho, Choi Jong-In, dan Min Byung-Gyu—diperkenalkan lebih awal dalam anime dibandingkan dengan versi manhwa. Begitu juga Ketua Go Gunhee, yang dalam anime sudah terlihat sejak episode pertama, sementara di manhwa, ia baru muncul setelah pemeriksaan ulang Jinwoo di Asosiasi Hunter.
Selain itu, Cha Hae-In juga tampil lebih awal di anime, padahal di manhwa ia baru debut di bab #65, dalam Hunters Guild Arc. Beberapa karakter lain juga ditampilkan sekilas sebelum mereka benar-benar diperkenalkan dalam cerita, seperti Yoo Jinho, hunter D-rank yang kelak menjadi teman sekaligus rekan bisnis Jinwoo; Han Song-Yi, hunter E-rank yang merupakan teman adik Jinwoo; serta Kim Chul, pemimpin raid A-rank dari Red Gate Arc, yang nantinya akan menjadi salah satu shadow soldier Jinwoo, Iron.
3. Anime Solo Leveling Mengatur Arc Pulau Jeju Dari Awal

Jeju Island Arc adalah salah satu bagian paling ikonik dalam Solo Leveling, dan anime telah memberikan petunjuk mengenai arc ini sejak episode pertama.
Demikian pula, dalam episode 12, anime menambahkan adegan ekspedisi Hunters Guild yang melakukan pengintaian ke Pulau Jeju sebagai persiapan untuk penyerbuan berikutnya. Di sana, mereka bertemu dengan semut monster terbang, yang mengisyaratkan evolusi makhluk-makhluk tersebut. Hal ini kembali diperkuat di awal season 2, meskipun baru terjadi setelah Red Gate Arc. Dalam adegan tersebut, Baek Yoonho menerima telepon dari Min Byung Gyu, yang mengonfirmasi ancaman semut setelah salah satu dari mereka menyerang sebuah pulau dan menewaskan banyak warga sipil. Dengan perubahan ini, anime berhasil membangun ketegangan dan meningkatkan antisipasi penonton terhadap Jeju Island Arc jauh sebelum arc tersebut dimulai.
2. Motivasi Sung Jinwoo Berbeda di Anime

Salah satu perubahan terbesar dalam adaptasi anime adalah bagaimana anime mengubah motivasi utama Sung Jinwoo. Dalam manhwa, Jinwoo awalnya menjadi seorang hunter demi menafkahi adiknya dan membayar biaya perawatan ibunya. Namun, setelah insiden double dungeon dan bertemu Yoo Jinho, ia mulai melihat perburuan sebagai tantangan dan ingin terus naik level untuk menguji batas dirinya. Rasa ketertarikannya terhadap sistem semakin kuat seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya di bab #61 manhwa, fokusnya berubah setelah mendapatkan resep Elixir of Life sebagai hadiah dari sistem. Dari sana, Jinwoo mulai berusaha menaklukan Demon Castle dengan tujuan utama menyembuhkan ibunya.
Sebaliknya, anime memperkenalkan keberadaan Elixir of Life jauh lebih awal, yaitu di S1 ep. 7, tepat setelah Jinwoo memperoleh kunci Demon Castle. Dengan demikian, anime langsung memberikan Jinwoo tujuan yang lebih jelas dan emosional sejak awal, membuat perjalanannya terasa lebih terarah bagi penonton.
1. Sung Jinwoo Lebih Manusiawi dalam Anime Solo Leveling

Adaptasi anime Solo Leveling memberikan karakterisasi yang sedikit berbeda untuk Jinwoo, menjadikannya lebih manusiawi. Padahal, dalam manhwa, salah satu aspek menarik dari perkembangannya adalah bagaimana ia perlahan kehilangan sisi emosionalnya seiring dengan peningkatan kekuatannya. Meskipun anime tetap menampilkan beberapa momen yang menunjukkan moralitas Jinwoo yang abu-abu, beberapa tindakan kontroversialnya justru dihapus atau disensor. Misalnya, adegan di mana ia menyeret seorang hunter kriminal untuk dimangsa hobgoblin di bab #34, memprovokasi Kim Chul agar menyerangnya sebelum membunuhnya di bab #53, serta bertindak sebagai vigilante dengan mengancam seorang pembunuh berantai di bab #94, semuanya tidak ditampilkan dalam versi anime.
Selain itu, anime lebih menonjolkan sisi reflektif Jinwoo, membuatnya lebih mudah dipahami oleh penonton yang menyukai protagonis dengan sifat heroik. Beberapa adegan orisinal menyoroti hal ini, seperti momen di episode 14 di mana Jinwoo merenung setelah membunuh Kim Chul, di episode 17 saat ia mengingat kembali trauma di Double Dungeon, serta di episode 21 ketika ibunya menyebut bahwa Jinwoo menjadi hunter untuk membantu orang lain. Perubahan ini memberikan kesan yang lebih emosional terhadap perjalanan Jinwoo, sekaligus mengurangi kesan dingin dan tak kenal ampun yang lebih menonjol dalam manhwa.
Seperti itulah 10 perubahan yang dilakukan dalam adaptasi anime Solo Leveling yang mungkin Titipers belum sadari. Meskipun beberapa perubahan ini menghilangkan detail dari manhwa, ada juga yang justru memperkaya pengalaman menonton para penggemar animanga. Nah, dari semua perubahan ini, mana yang paling mengejutkan atau menurut Titipers justru membuat anime lebih menarik? Yuk, diskusi di kolom komentar!
sumber: screenrant
Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^
Jangan lupa Ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang