Review Komik I Want to Eat Your Pancreas: Komik Romantis yang Mengajarkan Arti Hidup

Titip Jepang - I Want To Eat Your Pancreas

Siapa yang tidak tahu judul satu ini? Yups, I Want to Eat Your Pancreas adalah sebuah cerita yang cukup terkenal pada masanya ketika anime ini rilis di bioskop. Pada kesempatan ini Penulis akan mengulas komik berjudul sama, hasil kolaborasi alih wahana novel ke komik oleh Sumino Yoru dengan Idumi Kirihara yang diterbitkan oleh Penerbit m&c pada tahun 2019 lalu.

Sinopsis

Sampul belakang komik I Want to Eat Your Pancreas edisi Bahasa Indonesia.

Tanpa sengaja aku menemukan buku harian teman sekelasku, Sakura Yamauchi, yang berjudul “Hidup Bersama Penyakit”. Di dalamnya, tertulis bahwa dia mengidap penyakit pankreas dan hidupnya tidak akan lama lagi. Sejak saat itu, Sakura yang periang bersikeras menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, si cowok kutu buku yang tertutup. Dari sanalah hubungan kami yang aneh dimulai…

 

Slice of Life berbalut Drama

Protagonis kepergok sedang membaca buku harian Sakura oleh pemiliknya sendiri.

Unsur utama cerita ini ada pada keseharian antara Protagonis—yang tak mau namanya disebut di dalam cerita—dengan Sakura Yamauchi dalam menghabiskan waktu bersama sampai Sakura tak mampu bertahan atas penyakit pankreas yang ia derita.

Kebersamaan Protagonis dengan Sakura ketika jalan-jalan ke luar kota.

Sepanjang cerita kita akan diperlihatkan mengenai apa saja yang mereka lakukan, misalnya mengerjakan kegiatan ekskul sekolah, jalan-jalan ke luar kota, dan tempat makan. Banyak percakapan yang cukup filosofis seperti makna hidup dan pandangan stoikisme yang disampaikan secara ringan lewat interaksi mereka berdua.

Interaksi yang cukup intens dan manis antar keduanya mampu membuat kita terbuai ke dalamnya hingga kita lupa bahwa Sakura punya “tenggat waktu” yang tak panjang. Ketika kita (dan protagonis) sadar akan hal ini seketika cara kita memandang cerita akan berubah. Lalu perasaan sedih bercampur getir segera menggerogoti hati hingga kita menutup buku.

 

Slow Burn

Walau yang menjadi highlight cerita adalah interaksi antara protagonis dengan Sakura namun sebetulnya cerita ini mencoba memperlihatkan perubahan pada karakter utamanya. Bisa dibilang cerita bertipe coming of age. Perubahannya sangat lambat. Protagonis harus dipantik dulu lewat Sakura agar mau berubah. Lewat berinteraksi dengan Sakura pelan-pelan protagonis “disadarkan” kekurangannya sehingga ia mengubah diri—sekalipun ia merasa “diubah” olehnya—dan berhasil menjadi pribadi yang lebih terbuka terhadap orang lain.

 

Stoikisme dan Pentingnya Menikmati Hidup

Pernyataan Sakura ke Protagonis yang memuat cara ia memandang konsep takdir selaras dengan paham stoikisme.

Ada banyak pelajaran hidup yang disampaikan pengarang di dalam ceritanya, entah itu melalui tindak-tanduk karakternya maupun ucapan yang terlontar dari karakternya.

Melalui Sakura pengarang sering menekankan bahwa baik Sakura maupun orang lain sebetulnya sama saja. Kita bisa mati kapan saja. Kalau memang kita divonis tak berumur panjang, lantas mengapa kita berlarut-larut dalam kesedihan alih-alih mencoba untuk menikmati hidup yang ada dan bahagia. Sebab siapa tahu besok kita akan mati.

Pernyataan Sakura kepada Protagonis bahwa semua orang bisa mati kapan saja.

Pengarang juga menyampaikan bahwa semua kejadian yang kita alami bukanlah karena kebetulan. Melainkan disebabkan oleh pilihan-pilihan yang kita ambil di masa lalu. Seperti halnya ketika protagonis merasa bahwa ia hanya kebetulan menemukan catatan harian milik Sakura dan kepergok pemiliknya. Hal itu takkan terjadi jika ia tak melalukan check up mengenai penyakitnya dan Sakura tidak meninggalkan catatan hariannya di lobi rumah sakit pada hari yang sama.

Dan inilah poin penting dari cerita ini. Jangan pernah menunggu waktu untuk berubah. Jika kesempatan itu datang, bergegaslah.

Jangan menunggu seseorang datang mengulurkan tangan dulu untukmu hanya agar kita berubah. Protagonis terlambat menyadari ini sehingga ia melepaskan kesempatan baik itu begitu saja dan jatuh dalam kesedihan dan penyesalan. Namun kalau berkaca dari penokohannya Penulis sedikit memahami mengapa ia begitu lambat berubah. Sebab selama ini ia tak memiliki seseorang yang bisa ia sebut “teman”. Meski begitu sikap lamban ini tentu membuat kita geregatan.

 

Sudah Mendapatkan Berbagai Adaptasi

I Want to Eat Your Pancreas dengan ketiga macam adaptasinya.

Kepopuleran I Want to Eat Your Pancreas tidak terlepas dari adaptasi dari novel karya Sumino Yoru. Hebatnya novel ini mendapatkan tiga versi adaptasi alih wahana sekaligus. Yang pertama adalah komik yang sedang kita ulas ini. Digambar oleh Idumi Kirihara, komik ini berjumlah dua volume yang memulai serialisasinya di Majalah Gekkan Action (Futabasha) pada tahun 2016 lalu.

Yang kedua adalah movie live action. Film ini pertama kali tayang di Jepang pada 28 Juli 2017, disutradarai oleh Sho Tsukikawa dengan durasi 115 menit.

Adaptasi yang terakhir ialah anime movie. Anime ini pertama kali rilis di Jepang pada 1 September 2018 dan disutradarai oleh Shinichi Ushijiro, berdurasi 128 menit.

 

 Bisa Dibaca Semua Orang 

Buat Penulis komik I Want to Eat Your Pancreas hampir bisa dibaca oleh siapapun. Titipers suka tipe slice of life yang ringan, bisa baca ini. Ingin mencari tipe cerita romance tanpa drama menye-menye bisa banget baca komik ini. Apalagi kalau Titipers sangat menyukai bacaan yang fokus memperlihatkan perubahan watak pada karakter utamanya, Titipers tak boleh melewatkan bacaan yang satu ini.

Komik ini sendiri hanya berjumlah sebanyak dua volume. Jadi tak ada salahnya buat Titipers mencobanya. Apabila cocok maka akan menjadi bacaan yang patut disyukuri, namun bila ternyata kurang cocok Titipers tak perlu merasa rugi. Dengan harga ekonomis (I Want to Eat Your Pancreas ini masih dicetak dengan format kertas koran) tentu tidak akan membuat dompet Titipers bersedih. Layak dibuat sebagai ajang penjajakan.

Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang ya! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^

Jangan lupa ikuti juga media sosial Titip Jepang:
Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *