Suasana Ramadhan di Jepang

Sahabat Titipers di tanah air mungkin sudah akrab dengan bulan Ramadhan yang ramai akan suara pengajian dari pengeras suara masjid, buka puasa bersama, pasar-pasar jajanan takjil, dan salat Tarawih berjamaah. Tetapi semua itu adalah pengalaman yang tidak bisa dinikmati oleh mayoritas saudara muslim kita di Jepang.

Jepang memiliki konsep beragama yang amat berbeda dengan yang kita kenal di Indonesia. Jadi, sebelum menuduh orang Jepang ateis, mari pahami dulu bahwa masyarakat Jepang hanya tidak akrab saja dengan konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa”, hehe. Nah, karena perbedaan konsep ini lah ada satu peraturan yang mungkin terasa asing buat Sahabat Titipers, seperti pengeras suara masjid yang tidak diperbolehkan sampai terdengar ke luar bangunan. Sebenarnya bukan hanya untuk masjid, tetapi semua tempat kegiatan agama karena berlandaskan prinsip tidak mengganggu orang lain. Jadi, kecuali berada di dalam masjid kita tidak bisa menunggu waktu berbuka puasa dengan berharap segera mendengar azan Magrib.

Muslim adalah minoritas di Jepang, dan 90% didominasi oleh perantau asing. Kawakami Yasunori di tahun 2007 melalui tulisannya mengatakan bahwa populasi muslim Jepang hanya sekitar 70.000 (Dari total penduduk yang mencapai 126,8 juta jiwa). Tidak heran bila banyak sekali kota yang tidak memiliki masjid. Dan bila memiliki masjid pun umumnya hanya 1 masjid untuk satu kota, bahkan 1 prefektur (setingkat provinsi). Pengalaman berbuka di masjid juga bisa menjadi pengalaman pertukaran budaya, karena umat muslim dari berbagai negara berkumpul bersama. Menu berbuka puasa bersamanya pun tidak selalu apa yang akrab kita temui di Indonesia. Tergantung pada tim takmir masjid setempat dari negara mana, atau menu pilihan takmir apa. Kalau di tanah air kita bisa ikut buka puasa bersama di masjid karena kangen kolak pisang, di Jepang yang mungkin terjadi adalah kita ikut buka puasa di masjid karena ingin makan nasi biryani.

Ke masjid harus naik kereta 30 menit, dan dalam radius 10 kilometer hanya ada 1 muslim yaitu diri sendiri. Bila seperti ini, pilihan satu-satunya adalah berbuka sendiri di dalam kamar. Sepi ya rasanya? Ini belum seberapa. Menyiapkan menu berbuka sendiri juga tidaklah mudah. Pilihan menu halal di Jepang tentu tidak sebanyak di Indonesia. Belum lagi jika Sahabat ingin berbuka dengan menu es khas tanah air seperti es campur misalnya. Bahan dasar sirup dalam botol dan kolang-kaling tidak bisa ditemui di sembarang supermarket, melainkan hanya di toko khusus yang menjual bahan makanan khas Indonesia atau asia.

Menu berbuka sudah siap, tapi belum juga masuk waktu Magrib. Ini karena bulan Ramadhan berlangsung biasanya ketika musim panas, atau jika Sahabat sedang beruntung adalah di penghujung musim semi. Salah satu ciri khas dari musim panas adalah waktu siang yang lebih panjang dari waktu malam. Muslim di Jepang umumnya harus berpuasa selama 16 hingga 17 jam. Magrib biasanya baru dimulai sekitar pukul enam atau tujuh waktu setempat. Puasa kita di sini yang hanya berkisar 13 jam jadi terasa ringan ya Sahabat Titipers.

Menjelang penghujung Ramadhan, kita mulai bertanya-tanya 1 Syawal akan jatuh di hari apa. Tetapi Jepang tidak punya MUI untuk menggelar Sidang Isbat. Yang dilakukan adalah mengikuti ketetapan dari negara muslim atau berpenduduk mayoritas muslim terdekat. Nah, bila mengintip peta, negara yang memenuhi syarat tadi adalah Malaysia atau Indonesia! Jadi bila di tanah air kita dibingungkan ketika penetapan 1 Syawal tidak seragam, ternyata kita tidak sendiri. Saudara muslim di Jepang pun ikut bingung oleh hal ini.

Sudah berpuasa menahan lapar dan dahaga, juga hawa nafsu selama 1 bulan. Besok adalah hari raya. Tetapi kegiatan di kampus tetap berlangsung seperti biasa. Kantor dan pabrik tetap beroperasi di waktu yang sama dengan hari sebelumnya. Tidak ada keistimewaan hari libur seperti yang biasa kita nikmati. Bila terbentur jadwal kegiatan harian, muslim di Jepang umumnya akan mengajukan izin setengah hari (bukan libur seharian ya!). Bila izin ditolak? Pasrah dan merayakan Idul Fitri dalam hati adalah pilihannya.

Izin masuk siang diterima. Sekarang tinggal memakai baju terbaik, mengemas peralatan shalat lalu menuju masjid terdekat. Perjuangan menuju masjid mungkin tidak terlalu mudah, terutama bila kita menggunakan transportasi umum. Bayangkan saja Sahabat, semua muslim di seluruh penjuru kota atau bahkan provinsi dan pulau menuju ke arah yang sama dalam waktu yang bersamaan. Kereta bisa penuh sesak berjejalan. Belum lagi bila bertepatan dengan rush hour. Tergantung pada penyelenggara kegiatan, shalat Ied dapat dilaksanakan sekitar pukul 7 hingga di atas pukul 10 pagi.

Sesampainya di masjid, Sahabat akan disambut oleh penuh sesaknya muslim yang membanjiri. Walaupun tidak bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga, kebersamaan saat shalat Ied mungkin bisa sedikit mengobati kerinduan. Perjuangan selama satu bulan harus berpuasa di tengah suhu udara panas, waktu siang yang panjang, dan tidak adanya libur atau sekolah hanya setengah hari semoga dapat terbayarkan dengan sajian nasi kebuli dari panitia sholat Ied setempat.

Tinggalkan Balasan