[REVIEW DRAKOR] Remake Money Heist versi Korea

La casa de Papel merupakan serial drama asal Spanyol yang rilis di Netflix pada tahun 2017 lalu. Serial dengan judul Internasional Money Heist tersebut memiliki 5 season yang terakhir dirilis pada 2021 lalu di Netflix. Menceritakan upaya perampokan gedung percetakan uang yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Setelah keberhasilan versi Spanyol-nya, Money Heist kemudian mendapatkan remake versi Korea yang telah rilis 24 Juni lalu. Dalam versi Korea tersebut, memiliki judul Money Heist Korea: Joint Economic Area. Diceritakan bahwa negara Korea Selatan dan Korea Utara membentuk Joint Economic Area / Zona Ekonomi Bersama (ZEB), dimana warga dari kedua negara bisa saling berinteraksi dan tinggal bersama. Hal itu tentu saja membuat persatuan/reunifikasi Korut dan Korsel jadi semakin dekat. Akan tetapi, keberadaan ZEB itu juga memunculkan kesenjangan sosial dan ekonomi.

Isu Sosial Ekonomi dan Reunifikasi Korea

Dalam serial ini, seperti versi originalnya, juga menyinggung permasalahan sosial dan ekonomi kedua negara. Motivasi yang dilakukan oleh para perampok tidak sekedar mencuri uang, tapi juga revolusi dan pemberontakan. Mereka tidak mengambil uang di bank, tapi mencetaknya sendiri dan membawa kabur uangnya. Bahkan, mereka memiliki kode etik untuk tidak membunuh sandera maupun polisi.

Zona Ekonomi Bersama, di satu sisi bisa menyatukan kedua negara, namun itu hanya di kalangan elite pejabat negara saja. Namun, di sisi akar rumput, hal itu bisa menimbulkan gesekan dari dua kelompok. Perbedaan ekonomi dan budaya karena terpisah selama 70 tahun menyebabkan perbedaan pandangan dari masyarakat kedua negara akan kehidupan. Bahkan, keberadaan ZEB itu pun tidak luput dari aksi premanisme dan mafia yang merugikan kelompok masyarakat ekonomi bawah.

Dalam isu reunifikasi Korea, seperti disinggung pada sinopsis di atas, serial ini mengangkat tentang Zona Ekonomi Bersama kedua negara. Aksi perampokan sendiri dilakukan di gedung percetakan uang unifikasi Korea di dalam ZEB yang dimana pegawainya berasal dari Korut maupun Korsel. Sehingga, penanganan perampokan dilakukan oleh kepolisian kedua negara yang bekerja sama. Para perampoknya sendiri juga berasal dari kedua negara tersebut, ditambah dua orang dari Cina.

Not as Good as Original

Sebagai adaptasi remake tentu saja banyak yang membandingkan dengan versi originalnya. Versi Korea ini sendiri banyak adegan versi original yang tidak dimasukkan, contohnya adalah adegan flashback sebelum perampokan atau adegan pencetakan uang. Adegan-adegan yang dipotong itu memiliki dampak positif, karena banyak obrolan tidak penting tidak dimasukkan. Namun, dampak negatifnya adalah membuat penonton tidak bisa merasakan chemistry dengan tokoh-tokoh pada versi Korea tersebut.

Beberapa tokoh di versi Korea ini juga tidak bisa menarik perhatian penonton karena acting pemain atau durasi tayang yang dipotong. Misalnya karakter Berlin, pada versi originalnya dia merupakan sosok yang memiliki karisma sebagai pemimpin, namun hal itu yang tidak ditemukan pada versi Korea ini. Begitupula karakter Nairobi, sulit untuk menemukan rasa suka pada tokoh ini, padahal yang versi originalnya merupakan karakter favorit penonton. Berbeda dengan karakter Tokyo, tokoh ini justru tidak se-annoying versi original bahkan cenderung disukai.

Selain banyak adegan yang dikurangi, pacing pada series ini juga lumayan cepat. Adegan yang menegangkan juga tidak terlalu banyak. Para perampok seperti tidak banyak mendapatkan permasalahan, bahkan masalah yang dihadapi bisa diselesaikan dengan cepat, seakan-akan perampokan mereka berjalan lancar. Berbeda dengan versi original, banyak masalah dan konflik yang dihadapi, dan bagaimana penyelesaiannya menambah aksi tegang. Ah, Mungkin karena sudah pernah menyaksikan adegan serupa sehingga sudah tau bagaimana penyelesaiannya.

Beberapa adegan yang memorable dihilangkan begitu saja di versi Korea ini. Contohnya adegan pencetakan uang ditambah Nairobi yang memberikan semangat kepada pekerja. Selain itu, tidak ada lagu Bella Ciao di akhir season, namun Bella Ciao hadir dalam bentuk lain (silahkan tonton saja untuk tau).

Worth to Watch or Skip?

Well, penulissendiri sebenarnya bisa menyelesaikan serial ini dengan cepat. Walaupun banyak kekurangan sana-sini, tapi penulis tetap penasaran dengan kelanjutannya ketika satu episode telah selesai. Oh iya, kalian kalau menonton ini jangan berekspektasi lebih, anggap aja seperti rewatch atau sekedar nostalgia, karena banyak adegan yang diulang-ulang.

Jujur saja, penulis masih bisa menikmati drakor ini. Adegan favoritku adalah di episode 6, ketika perampok yang hampir didesak oleh polisi tapi mereka bisa membalikkan keadaan, adegan itu agak berbeda dengan versi originalnya.

Ini masih part 1, part 2 nya akan rilis pada akhir tahun ini. Kita liat, bagaimana penyelesaian perampokannya, apakan sama persis atau akan ada perbedaan. Yang jelas kita akan dibuat penasaran dengan motivasi Professor, dalang aksi perampokan ini, karena kemungkinan dia memiliki motivasi yang berbeda.

Ikuti terus berita terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^

Sumber foto: Youtube Netflix

Instagram: @titipjepang
Twitter: @titipjepang
Facebook: Titip Jepang

Film Layar Live Action News Others Rubrik Tokusatsu

Godzilla Minus One Jadi Film Paling Dibajak, Toho Dikritik

Animanga Anime Film News Rubrik

Review Film Totto-Chan: Little Girl at The Window

Artikel Dorama Layar Live Action News Rubrik

Shōgun dan House of Ninjas: Dorama Jepang yang Sukses Skala Global

Budaya News Rubrik Urban Legend

Apakah Ada Mitos Banjir Bandang di Jepang?

Tinggalkan Balasan